Ada fenomena aneh yang semakin sering kita lihat di layar televisi: orang berbicara panjang, keras, bahkan kasar tetapi tanpa satu pun referensi yang jelas. Tidak ada data. Tidak ada riset. Tidak ada sumber yang bisa diperiksa. Yang ada hanya opini mentah, emosi, dan keberanian untuk menyerang.
Anehnya, orang seperti ini justru diberi panggung.
Televisi yang seharusnya menjadi ruang publik untuk mencerdaskan masyarakat, kadang berubah menjadi panggung bagi mereka yang paling pandai membacot. Bukan yang paling kuat argumennya, bukan yang paling solid datanya, tetapi yang paling keras suaranya.
Ini bukan sekadar masalah etika berbicara. Ini soal standar intelektual di ruang publik.
Dalam tradisi berpikir yang sehat, setiap pendapat seharusnya memiliki pijakan: data, penelitian, pengalaman empiris, atau setidaknya rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tanpa itu semua, sebuah pendapat hanyalah suara kosong yang dipoles dengan keberanian.
Namun logika televisi sering berbeda. Konflik lebih laku daripada akal sehat. Perdebatan yang panas lebih menjual daripada argumen yang rasional. Rating lebih menggoda daripada tanggung jawab intelektual.
Akhirnya kita menyaksikan tontonan yang lebih mirip arena adu emosi daripada forum diskusi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pesan yang disampaikan secara tidak langsung kepada masyarakat: bahwa seseorang tidak perlu membaca, tidak perlu meneliti, bahkan tidak perlu menjaga etika asal berani berbicara keras, panggung tetap tersedia.
Ini adalah kemunduran dalam budaya diskusi
Negara yang ingin maju membutuhkan ruang publik yang dipenuhi argumen, bukan kebisingan. Kita membutuhkan orang yang berpikir sebelum berbicara, bukan orang yang berbicara sebelum berpikir.
Televisi seharusnya memahami bahwa setiap panggung yang mereka berikan adalah legitimasi. Ketika panggung itu diberikan kepada orang yang hanya pandai membacot tanpa referensi, televisi secara tidak langsung sedang merendahkan kualitas percakapan publik.
Dan ketika kebisingan dianggap lebih penting daripada kebenaran, maka yang mati bukan hanya kualitas diskusi tetapi juga akal sehat masyarakat.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena orang bodoh berbicara.
Peradaban runtuh ketika kebodohan diberi panggung.
Oleh: Syahrul Amin, S.Sos
