Jakarta – Mojtaba Khamenei disebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Kabar ini dikutip dari laporan CNBC Indonesia, yang menyebut informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh The New York Times.
Dalam laporan itu disebutkan, Mojtaba Khamenei (56) kini menjadi sosok yang diunggulkan dalam pembahasan suksesi kepemimpinan oleh Majelis Pakar Iran. Namanya mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, Mojtaba sempat dikabarkan termasuk dalam daftar 40 ajudan utama Khamenei yang tewas dalam serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Namun, laporan terbaru yang menyebut namanya masuk dalam diskusi suksesi menegaskan bahwa ia masih hidup dan disebut siap melanjutkan kepemimpinan sang ayah.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba merupakan putra tertua kedua Ayatollah Khamenei. Ia dikenal memiliki pandangan konservatif garis keras serta kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam struktur pemerintahan, Mojtaba disebut memiliki pengaruh kuat di lingkaran kekuasaan. Ia juga pernah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada 2019.
Pakar Iran dari Johns Hopkins University, Vali Nasr, mengatakan kepada The New York Times bahwa jika Mojtaba terpilih, hal itu menunjukkan dominasi faksi Garda Revolusi yang lebih garis keras dalam pemerintahan Iran.
Sementara itu, analis politik Iran Mehdi Rahmati menilai Mojtaba memiliki keunggulan karena kedekatannya dengan aparat keamanan dan militer tingkat tinggi. Namun, ia juga memperingatkan kemungkinan munculnya reaksi negatif dari sebagian masyarakat Iran jika penunjukan itu benar terjadi.
Saat ini, kepemimpinan Iran dilaporkan berada di tangan dewan beranggotakan tiga orang. Dua di antaranya merupakan orang kepercayaan Ayatollah Khamenei yang selamat dari serangan Amerika Serikat.
Siapa pun yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran tetap harus mendapat persetujuan Dewan Penjaga. Lembaga ini bertugas menilai kesesuaian calon dengan hukum dan prinsip etika Islam yang berlaku di Iran.
Berbeda dengan sang ayah, Mojtaba dinilai tidak memiliki kredibilitas keagamaan yang sekuat Ayatollah Khamenei. Dalam situasi normal, hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam proses persetujuan. Namun, seorang politikus Iran yang dekat dengannya, Abdolreza Davari, menyebut kemungkinan pengangkatannya sebagai bentuk “pergantian kulit” dalam struktur kekuasaan Iran.
Sebagai informasi, Ayatollah Khamenei telah memimpin Iran selama 37 tahun dan dikenal berhasil mengonsolidasikan kekuasaan serta membangun jaringan loyalis yang kuat di berbagai lini pemerintahan dan militer.[*]
