Jakarta – Di tengah dinamika geopolitik global, khususnya dampak konflik di kawasan Timur Tengah terhadap rantai distribusi internasional, Indonesia mulai menunjukkan peran strategis dalam pasar pupuk dunia.
Melalui PT Pupuk Indonesia (Persero), pemerintah menargetkan peningkatan ekspor pupuk guna menjaga stabilitas pasokan global.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa perusahaan memiliki potensi ekspor sebesar 1,5 hingga 2 juta ton per tahun, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.
“Fokus utama tetap pada pemenuhan kebutuhan domestik. Setelah itu, potensi ekspor dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasokan dunia,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Kapasitas Produksi Jadi Andalan
Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton. Kapasitas tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga ketersediaan pupuk nasional sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global.
Transformasi skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism (mark-to-market) juga dinilai memberi fleksibilitas lebih bagi perusahaan. Selain itu, dukungan pembayaran subsidi di muka turut menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan mempercepat revitalisasi industri.
Dalam lima tahun ke depan, perusahaan menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik guna meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Distribusi Makin Efisien, Petani Diuntungkan
Dalam dua tahun terakhir, Pupuk Indonesia mencatat peningkatan kinerja distribusi pupuk bersubsidi. Penyaluran kini dapat dilakukan tepat waktu sejak awal tahun, yang sebelumnya menjadi tantangan dalam rantai distribusi nasional.
Penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada 2025 juga berdampak positif bagi petani. Hal ini mendorong peningkatan penyerapan pupuk hingga 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkuat Peran Global
Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono, menegaskan bahwa transformasi dan revitalisasi industri telah memperkuat fondasi sektor pupuk nasional.
Menurutnya, sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas pasokan global.
“Pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap prioritas, namun kondisi global membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih besar,” ujarnya.
Permintaan Global Mulai Meningkat
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya permintaan pupuk dari sejumlah negara di tengah gangguan distribusi global, termasuk dampak dari penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Meski belum merinci negara tujuan, Amran menyebut proses negosiasi masih berlangsung guna memastikan keuntungan optimal bagi Indonesia.
Momentum Strategis Indonesia
Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis, tidak hanya sebagai penjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga sebagai pemain penting dalam menjaga stabilitas pasar pupuk global.
Ke depan, keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor menjadi kunci utama. Jika dikelola optimal, sektor pupuk nasional berpotensi menjadi kekuatan ekonomi industri yang semakin kompetitif di tingkat global.[*]
