Perjuangan Tgk Azhar Kiran & H. Machfud Wujudkan Sumur Bor Wakaf Ibu Visca Clarissa di Tanah Aceh

Meureudu – Ketika mentari menyentuh cakrawala Desa Kuta Trieng pagi ini, sebuah pemandangan haru memecah kesunyian di Balai Pengajian Darul Muta’allimin. Gemericik air yang jernih dan deras bukan sekadar suara teknis dari sebuah mesin pompa; itu adalah suara kemenangan. Kemenangan atas dahaga panjang dan krisis air bersih yang mencekik warga pasca-amukan banjir besar Aceh di penghujung 2025 lalu.

Jarak 2.500 kilometer antara Sleman, DIY, dan Pidie Jaya, Aceh, kini resmi dipersatukan oleh satu jembatan kemanusiaan bernama Sumur Bor Wakaf Ibu Visca Clarissa.

Duet Maut Pengawal Amanah: Azhar Kiran & H. Machfud  Keberhasilan proyek monumental ini bukanlah kebetulan. Di balik derasnya air yang mengalir, ada tangan dingin dan dedikasi tanpa batas dari dua tokoh utama: Tgk Azhar Kiran dan Bapak H. Machfud.

Tgk Azhar Kiran, sang penggerak sosial yang dikenal tak kenal lelah, terjun langsung memastikan setiap jengkal pipa tertanam sempurna. Baginya, ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan "Misi Langit".

"Amanah dari Ibu Visca di Sleman adalah beban suci di pundak kami. Kami tidak akan berhenti mengebor sebelum menemukan urat air terbaik, karena air ini akan membasuh wajah-wajah kekasih Allah, para santri, dan jamaah lansia," tegas Tgk Azhar dengan nada heroik saat memimpin doa syukur di lokasi.

Di sisi lain, Bapak H. Machfud menjadi jangkar teknis dan transparansi. Dengan ketelitian tinggi, ia mengawal proses pengeboran terdalam untuk menembus lapisan tanah yang keras pasca-sedimentasi banjir. "Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah wakaf Ibu Visca menjadi manfaat abadi. Tidak boleh ada kegagalan. Air ini adalah simbol bahwa persaudaraan Indonesia tidak bisa dipisahkan oleh letak geografis," ujar H. Machfud penuh wibawa.

Isak Tangis dan Langit yang Bergetar oleh Doa

Momen paling menyentuh terjadi saat Nenek Maryam (68), salah satu jamaah lansia yang selama ini harus bersusah payah mencari air wudhu di tengah keterbatasan, mendekati pancuran air pertama. Dengan tangan yang gemetar, ia meraup air jernih tersebut ke wajahnya. Isak tangisnya pecah, menyatu dengan butiran air yang jatuh ke bumi.

"Ya Allah... Engkau kirimkan penolong dari tempat yang jauh," rintih Nenek Maryam di tengah isak harunya.

Sambil menengadahkan tangan ke langit, ia melantunkan doa yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengar:

"Ya Allah, sampaikan salam kami kepada Ibu Visca Clarissa di Sleman. Sebagaimana ia telah memuaskan dahaga kami di dunia, maka puaskanlah ia dengan telaga Al-Kautsar di surga-Mu. Jadikanlah setiap tetes air ini sebagai penghapus dosa dan pembuka pintu rezeki yang tak pernah putus bagi beliau dan keluarga. Berikanlah kesehatan yang tak pernah layu bagi Ibu Visca, Tgk Azhar, dan Pak Machfud. Engkau Maha Menyaksikan kedermawanan mereka di atas tanah Aceh yang sedang berduka ini, Amin."

Monumen Persaudaraan 2026, Pimpinan Balai Pengajian, Tgk. H. Anwar, menyebut fasilitas ini sebagai "Anugerah Terindah Tahun 2026". Di saat banyak pihak masih bergelut dengan pemulihan infrastruktur, kolaborasi ini hadir sebagai keberkahan.

Sumur Bor Wakaf ini kini berdiri tegak sebagai monumen hidup. Ia membuktikan bahwa meski badai banjir 2025 sempat meluluhlantakkan tanah, namun ia tak mampu meruntuhkan semangat gotong royong bangsa. Dari Sleman untuk Pidie Jaya, sebuah aliran pahala jariyah kini resmi menetap, mengalirkan kehidupan bagi generasi Qurani hingga akhir zaman.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama