Kalimantan Barat – Polemik dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat terus menjadi perhatian publik. Kritik terhadap dewan juri dan sistem penilaian perlombaan bermunculan setelah keputusan penjurian dinilai kurang transparan.
Perdebatan mencuat usai salah satu jawaban peserta dianggap tidak jelas dari sisi artikulasi oleh dewan juri. Keputusan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial karena sebagian publik menilai jawaban peserta masih dapat dipahami.
Kritik juga datang dari berbagai kalangan, salah satunya Syahrul Amin dari PMII Aceh. Ia mempertanyakan tidak adanya mekanisme peninjauan ulang melalui rekaman video atau siaran ulang untuk memastikan kejelasan jawaban peserta.
“Sekelas MPR RI, masa tidak ada peninjauan kamera ulang atau siaran ulang untuk melihat apakah yang disampaikan Regu C itu jelas atau tidak. Ini malah menyalahkan artikulasi yang dianggap tidak jelas. Sangat menyedihkan,” ujar Syahrul Amin.
Menurutnya, penggunaan rekaman ulang penting untuk menjaga objektivitas dan menghindari perbedaan penafsiran dalam proses penilaian.
Polemik tersebut memicu desakan agar penyelenggara memberikan klarifikasi resmi terkait standar penilaian yang diterapkan selama perlombaan berlangsung. Sejumlah pihak juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penjurian dalam ajang LCC 4 Pilar.
Meski diwarnai kontroversi, hasil akhir perlombaan tetap menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat untuk mengikuti LCC 4 Pilar tingkat nasional yang diselenggarakan oleh MPR RI.
Peristiwa ini dinilai menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara agar pelaksanaan kompetisi pendidikan ke depan dapat berjalan lebih transparan, profesional, dan adil sehingga kepercayaan publik tetap terjaga.[*]
