Lhokseumawe — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (BEM FH Unaya) berkolaborasi dengan Aceh Documentary dalam program Gampong Film yang digelar di RRI Lhokseumawe, Aceh, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi terhadap karya film dokumenter lokal sekaligus menghadirkan hiburan, edukasi, dan refleksi sosial bagi masyarakat.
Pemutaran film dokumenter karya sineas dan anak muda lokal tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan realitas sosial, kebudayaan, sejarah, serta berbagai persoalan masyarakat melalui perspektif audiovisual.
Kehadiran Gampong Film menunjukkan bahwa film dokumenter dapat menjadi sarana pendidikan publik yang mendorong kesadaran kritis sekaligus memperkuat apresiasi terhadap karya anak bangsa.
Kolaborasi BEM FH Unaya dan Aceh Documentary juga menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak terbatas pada ruang akademik dan organisasi. Mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui kebudayaan, literasi, kreativitas, serta aksi kemanusiaan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BEM FH Unaya bersama Aceh Documentary turut menggelar aksi penggalangan dana untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aksi tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena hiburan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Masyarakat yang hadir tidak hanya diajak menikmati karya, tetapi juga menumbuhkan solidaritas terhadap sesama.
Dari sebuah ruang pemutaran film, lahir pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.
“Film dapat membuka mata, tetapi kepedulian menggerakkan tangan.”
Gampong Film pada akhirnya bukan sekadar tentang layar, cerita, dan karya. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara kebudayaan, pendidikan, kreativitas, dan kemanusiaan.
Ketika karya anak bangsa dipertontonkan kepada masyarakat dan pada saat yang sama masyarakat diajak peduli terhadap korban bencana, film telah melampaui fungsi hiburan dan menjadi bagian dari gerakan sosial.
Kolaborasi BEM FH Unaya dan Aceh Documentary diharapkan dapat terus menjadi contoh bahwa organisasi mahasiswa dan komunitas kreatif memiliki ruang luas untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat melalui gagasan, karya, dan tindakan nyata.
Sebab, pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang mampu menciptakan karya, tetapi juga oleh mereka yang bersedia menggunakan karya tersebut untuk menghadirkan kemanusiaan.[Syahrul]
