Dari Luka Menuju Harapan Melalui Pedampingan Psikososial dalam Pemulihan Korban Bencana


BANJIR yang melanda sejumlah wilayah di Aceh bukan hanya peristiwa ekologis, tetapi juga pengalaman batin yang mengguncang kehidupan banyak keluarga. Di balik rumah yang terendam dan harta benda yang hilang, terdapat luka psikologis yang sering kali tidak tampak di permukaan.

Anak-anak, remaja, dan orang dewasa sama-sama berhadapan dengan rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian

Islam mengajarkan bahwa musibah dipahami bukan semata sebagai cobaan, tetapi juga sebagai ruang ujian kesabaran, kepedulian, dan solidaritas sosial. Namun, nilai kesabaran tidak dapat dimaknai sebagai sikap diam atau menahan beban sendirian.

Islam justru menekankan pentingnya ta’awun saling menolong dalam kebaikan dan kemanusiaan. Di sinilah layanan dukungan psikososial menemukan relevansinya.

Melalui pendampingan psikososial yang kami lakukan bersama Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH), kami menyadari bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh dimensi jiwa. 

Pendekatan psikososial, termasuk di dalamnya Psychological First Aid (PFA), menjadi bagian dari intervensi awal untuk membantu penyintas merasa aman, didengar, dan tidak sendirian. Pendekatan ini tidak bertujuan mendiagnosis, melainkan menemani—dengan empati dan kehadiran yang menenangkan.

Kearifan lokal Aceh memberikan fondasi yang kuat bagi pendekatan ini. Nilai meuseuraya (kebersamaan), gotong royong, dan budaya duduk bersama dalam menyelesaikan persoalan hidup menjadi modal sosial yang sangat berharga. 

Dalam pendampingan anak-anak, aktivitas bermain, menggambar, bernyanyi, dan bercerita bukan sekadar hiburan, tetapi sarana memulihkan rasa aman dan kegembiraan yang sempat hilang. Sementara bagi remaja, diskusi ringan tentang emosi, kehilangan, dan harapan membuka ruang refleksi agar mereka tidak memendam beban sendirian.

Pendampingan psikososial juga menjadi ruang pendidikan nilai. Doa bersama, cerita-cerita penguatan, dan pesan-pesan sederhana tentang harapan membantu anak dan remaja memahami bahwa perasaan sedih, takut, atau marah adalah manusiawi. Yang terpenting, mereka belajar bahwa ada orang-orang di sekelilingnya yang peduli dan siap mendampingi.

Kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan lembaga kemanusiaan menjadi bukti bahwa pemulihan bencana adalah tanggung jawab bersama. 

Keterlibatan mahasiswa Psikologi dan Pendidikan Khusus dalam layanan ini tidak hanya memperkuat kapasitas lapangan, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan, empati, dan pengabdian sebagai bagian dari jati diri akademisi.

Aceh adalah daerah yang kaya akan sejarah ketangguhan. Namun ketangguhan sejati bukan hanya tentang bertahan dari bencana, melainkan tentang bagaimana kita merawat satu sama lain setelahnya. Merawat jiwa para penyintas adalah bagian dari ikhtiar kemanusiaan yang selaras dengan nilai Islam dan budaya Aceh bahwa tidak ada yang dibiarkan pulih sendirian.

Pemulihan pascabencana, pada akhirnya, bukan hanya tentang membangun kembali yang runtuh, tetapi juga tentang menguatkan hati, menumbuhkan harapan, dan menjaga martabat kemanusiaan. (*)

Penulis: Maisura, M.Pd | Dosen Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama