Bireuen - Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH) melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026 menerjunkan 50 mahasiswa lintas tiga program studi ke Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen
Untuk diketahui Kabupaten Bireuen merupakan salah daerah paling parah terdampak banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 yang menewaskan 34 jiwa dan merusak 12.752 unit rumah.
Program Mahasiswa Berdampak diketuai Sri Wahyuni, SKM.,M.Kes dengan anggota Aris Winandar, SKM.,M.Kes menghadirkan intervensi trauma healing integratif melalui empat sesi terstruktur yang menggabungkan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan mindfulness dengan kearifan lokal Aceh berupa zikir dan rateb, menyasar 28 anggota Posyandu Lansia Sehat Sejahtera yang 88% mengalami gejala trauma dan 65% depresi ringan-sedang, dengan target penurunan gejala trauma menjadi 45%.
“Intervensi serupa juga diberikan kepada anak-anak di Gampong Kapa yang mengalami dampak psikologis pascabencana melalui pendekatan trauma healing berbasis bermain, menggambar, dan bercerita, guna membantu mereka mengekspresikan emosi serta memulihkan rasa aman dan keceriaan setelah peristiwa traumatis yang mereka alami.” ujar Sri Wahyuni, SKM.,M.Kes kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
Dikatakan, selain intervensi psikososial, tim melaksanakan pemeriksaan kesehatan massal menggunakan instrumen IES-R dan SRQ-20 serta kit kesehatan lengkap berupa tensimeter digital, glucometer, pulse oximeter, stetoskop, dan kit antropometri yang diserahkan dalam dua set untuk menjamin kontinuitas layanan.
“Skrining ini menjangkau seluruh anggota kelompok rentan yang 75% mengalami gangguan fisik (ISPA, diare, penyakit kulit) dan 45% kekambuhan penyakit kronis, disertai reaktivasi posyandu rutin empat kali per bulan dan pelatihan lima kader mandiri untuk keberlanjutan layanan kesehatan dasar di tingkat gampong.” ucapnya.
Ditambahkan, untuk pemulihan sektor ekonomi pangan, program menyerahkan hand traktor mini tipe Quick G1000 Boxer berkekuatan 6–8 HP yang mampu mengolah lahan pascabanjir berlumpur hingga 0,15–0,2 hektare per jam lima kali lipat lebih efisien dibanding pengolahan manual kepada kelompok tani untuk dikelola secara kolektif.
“Hand traktor ini menjadi solusi kritis mengingat ribuan hektare lahan sawah di Bireuen tertimbun lumpur tebal pascabanjir, sehingga percepatan pengolahan lahan menjadi kunci pemulihan ketahanan pangan masyarakat Gampong Kapa.” pungkasnya. [Fohan Muzakir]
