Di Tengah Luka Banjir, Warga Bangkit Menjadi Penolong Sesama

 


Aceh Utara - Di saat air bah belum sepenuhnya surut dan sisa lumpur masih melekat di dinding rumah, keteguhan hati masyarakat terdampak banjir kembali menunjukkan wajah kemanusiaan yang sesungguhnya. Meski mereka sendiri tengah berjuang memulihkan kehidupan pasca-banjir, sejumlah warga justru berinisiatif menggalang bantuan untuk korban banjir di wilayah lain yang kondisinya dinilai lebih parah.

Dengan keterbatasan yang ada, warga secara swadaya mengumpulkan bahan makanan, pakaian layak pakai, air bersih, serta dana seadanya. Bantuan itu dikumpulkan dari rumah ke rumah, dari sisa persediaan yang mereka miliki, bahkan dari hasil patungan kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Walaupun kami juga terdampak, masih ada saudara-saudara kami yang keadaannya jauh lebih sulit. Mereka kehilangan rumah, harta benda, bahkan tempat berlindung,” ujar Muhammad Rizal dengan mata berkaca-kaca, Baginya dan warga lainnya, berbagi di tengah kekurangan adalah bentuk syukur dan empati yang tak ternilai, seperti 

Sabda Rasulullah :

“Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melapangkan satu kesusahannya pada hari kiamat.

Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”

(HR. Muslim)

Penegasan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan—sekecil apa pun—terutama dalam meringankan beban sesama, akan kembali kepada diri kita sendiri dalam bentuk pertolongan dan kemudahan dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat, tutup Rizal Mbang Pase.

Aksi kemanusiaan ini tidak hanya menjadi wujud solidaritas, tetapi juga cerminan kuatnya nilai gotong royong yang hidup di tengah masyarakat. Tanpa menunggu bantuan datang, mereka memilih bergerak, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada sesama yang merasa sendiri menghadapi bencana.

Bantuan yang terkumpul kemudian disalurkan melalui relawan dan posko kemanusiaan untuk menjangkau korban banjir yang paling membutuhkan. Meski jumlahnya tidak besar, kehadiran bantuan tersebut membawa harapan dan semangat bagi para korban yang masih bertahan di pengungsian.

Di tengah derita banjir yang melanda, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak pernah tenggelam oleh bencana. Justru dari genangan air dan puing-puing kehidupan, lahir kepedulian yang menguatkan, menegaskan bahwa harapan selalu ada selama rasa saling peduli tetap terjaga.[Abel]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama