Discaurage Worker, Kala Negara Gagal Memuliakan Ilmu


Ilmu memiliki peranan penting untuk membangun kemajuan bangsa dan negara di masa depan. Dengan ilmu, kita mampu bersaing dan berkompetisi dengan negara-negara lain. Dorongan inilah yang menjadi motivasi bagi anak-anak bangsa untuk berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Agar keilmuan tersebut kelak dapat menjadi kontribusi kepada negara sebagai persembahan terbaik anak bangsa. Walaupun, untuk mengenyam pendidikan di level tinggi tidaklah mudah, namun hal ini tidak menjadi penghalang untuk meraih ilmu setinggi-tingginya.

Tidak semua orang mampu memiliki gelar pendidikan sampai S2 bahkan S3. Keilmuan dibalik gelar tersebut tidak disangsikan lagi, mereka memiliki keilmuan yang mumpuni dan siap mengontribusikan ilmunya untuk memajukan bangsa di masa depan. Namun sayangnya, harapan untuk mengaplikasikan ilmu untuk negara dan bangsa harus pupus, dikarenakan tidak adanya peluang, kesempatan dan ruang bagi mereka. Minimnya lapangan pekerjaan, membuat mereka mengalami discaurage worker (pekerja yang putus asa).

Fenomena Discaurage Worker

Discaurage worker adalah kondisi dimana seseorang yang memiliki kemampuan/skill untuk bekerja, namun berhenti mencari pekerjaan karena merasa tidak ada peluang yang tersedia/ tidak ada pekerjaan yang cocok dengan kualifikasi mereka. Hal ini menyebabkan menambah daftar panjang tingkat pengangguran yang melandan anak bangsa. Fenomena ini merupakan masalah struktural di pasar kerja dan potensi sumber daya manusia terbuang percuma.

Dilansir dari detik.com, 07/12/2025 mengungkapkan Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI),  yang mencatat tidak sedikit penduduk usia produktif di negeri ini mengalami fenomena discaurage worker. Ada sekitar 6 ribu lulusan pascasarjana S2 dan S3 yang masuk dalam kategori menganggur dan putus asa. Berdasarkan survei Angkatan kerja Nasional 2025 oleh BPS, menunjukkan fenomena discaurage worker bukan hanya dialami oleh lulusan S2 dan S3. Melainkan juga meliputi jenjang pendidikan lainnya, S1 2,42%, Diploma 1,57%, SMK 8,09%, SMA 17,29%, SMP 20,21% dan SD atau tidak tamat SD 50,07%.

Disfungsi Peran Negara

Fakta ini menunjukkan persoalan serius yang harus menjadi perhatian negara dan memunculkan pertanyaan mengapa fenomena ini bisa terjadi? Padahal negeri kita ini dikenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa, negeri yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Dengan potensi kekayaan alam yang sangat besar ini, seharusnya menjadi peluang terbukanya lapangan pekerjaan yang diperuntukkan bagi anak bangsa. Karena kekayaan alam ini harus dikelola oleh orang-orang yang mumpuni dan menguasai bidang keilmuan, sehingga dapat mengembangkan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Namun sayanganya fakta berkata lain. Justru pengangguran masif tengah mencengkeram generasi bangsa, di sisi lain serbuan tenaga kerja asing masuk dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan bebas menempati posisi-posisi strategis di perusahaan-perusahaan yang mengelola kekayaan alam milik rakyat. Mendapatkan gaji dan fasilitas yang sangat bagus, sedangkan generasi bangsa diabaikan begitu saja. Bahkan untuk tetap bertahan hidup agar perekonomian tetap berjalan, dengan setengah hati mereka terpaksa mengadu nasib ke negeri orang untuk mencari mata pencaharian baru.

Perbedaan perlakuan negara kepada tenaga kerja asing dan anak bangsa, patut dipertanyakan. Bukankah negara laksana seorang ibu, yang senantiasa mengutamakan kepentingan anak-anaknya/rakyatnya dibandingkan rakyat dari negara lain? Maka wajarlah muncul kekecewaan yang sangat mendalam kepada negara, lebih memihak tenaga kerja asing dibandingkan rakyat. Membiarkan rakyatnya berjuang secara mandiri untuk mendapatkan pekerjaan, tragisnya setelah rakyat mendapatkan pekerjaan dengan mudahnya negara memaksakan rakyat untuk membayar pajak. Sungguh, ketidakadilan dan kezaliman tengah dirasakan rakyat dan dilakukan oleh negara.

Inilah buah penerapan sistem kapitalis sekular, yang telah meminimalisir peran negara hanya sebagai regulator bukan pelayan bagi rakyatnya. Di negeri kita pun unduk dan patut oleh aturan sistem kapitalisme, yang hanya memandang rakyat hanya sebagai “sapi perahan” negara. Mereka hanya dicetak menjadi tenaga buruh bukan tenaga ahli. Tidak ada sedikit pun apresiasi keilmuan yang diberikan oleh negara, dan hal ini menjadi dalih ketidakmampuan negara mengelola kekayaan alam sehinga menjadi legitimasi pemangku kebijakan saat ini memberi hak pengelolaan kekayaan alam kepada negeri asing dan aseng.

Kondisi inilah semakin memparah perekonomian negeri-negeri muslim, walaupun mereka hidup di negeri yang kaya tetapi kemiskinan dan pengangguran menjadi potret nyata yang mewarnai kehidupan rakyatnya. Maka apabila kondisi ini akan menghancurkan potensi keilmuan yang dimiliki oleh generasi muslim dan negeri-negeri muslim terus berada dalam cengkeraman penjajahan ekonomi oleh negara-negara asing dan aseng.

Keutamaan Dan Kemuliaan Ilmu

Ilmu mendapatkan posisi yang mulia dalam sistem yang menjadikan ilmu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap individu rakyat. Maka dibutuhkan negara yang memfasilitasi pendidikan sebagai bagian dari tanggung jawabnya. Karena maju mundurnya sebuah negara dilihat dari kualitas pendidikan rakyatnya. Sehingga negara akan fokus memberikan kualitas pendidikan terbaik bagi generasi bangsa yang notabene kelak merekalah yang akan melanjutkan estafet perjuangan bangsa dan mampu berkompetisi dengan negara-negara lain. 

Hal ini menjadi tujuan utama negara yang concern pada pendidikan dan akan mencetak generasi yang mumpuni di semua bidang keilmuan. Kekayaan alam yang melimpah ruah akan dikelola oleh negara dengan menggunakan keilmuan yang dimiliki generasi bangsa. Dan tentunya akan menyerap dan membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas bagi seluruh individu rakyat. Sehingga tidak akan pernah akan ditemukan pengangguran terdidik atau discaurage worker. Karena negara akan memberdayakan semua bidang keilmuan yang dimiliki oleh generasi bangsa dan mampu menjadikan negara yang indenpen, tanpa ada pengaruh sedikit pun dari negara lain.

Oleh karena itu, yang menjadi kegagalan sebuah negara apabila negara tidak mampu memposisikan ilmu pada posisi yang mulia. Dan terbukti sistem kapitalis yang bertahta hari ini terlah terbukti gagal memuliakan ilmu yang berdampak pada perekonomian rakyatnya. Sehingga dibutuhkan sistem aturan yang benar, diterapkan oleh negara yang mencintai dan memuliakan ilmu. Karena dengan ilmulah, negara mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya dan melepaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan. Dan melahirkan generasi pelopor perubahan bangsa di masa yang akan datang.

Penulis oleh : Siti Rima Sarinah


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama