Banda Aceh – Bencana banjir kali ini bukan sekadar air yang menggenang, melainkan air mata yang tumpah di Tanah Rencong. Di tengah kepungan bencana yang melumpuhkan, jeritan sunyi terdengar dari wilayah tengah Aceh—Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Di sana, ribuan saudara kita terisolir, terputus aksesnya dari dunia luar, menanti uluran tangan di tengah ketidakpastian.
Menyadari kondisi darurat ini, Mata Garuda (MG) LPDP Aceh menolak menyerah pada keadaan. Ketika jalur darat luluh lantak dan tak lagi bisa dilewati, satu-satunya jalan adalah menembus langit.
Hari ini, Minggu (7/12), suara baling-baling helikopter memecah keheningan di Pangkalan Udara (Lanud) Iskandar Muda. Tim Mata Garuda LPDP Aceh yang dikomandoi Tathahira, M.Ed, salah seorang dosen di IAIN Takengon, menerbangkan 100 sak beras menuju Takengon. “Ini bukan sekadar pengiriman logistik; ini adalah pengiriman harapan. Bagi warga di dataran tinggi yang terkurung longsor dan banjir, bantuan ini adalah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa saudara-saudaranya di luar sana masih peduli,” Ujar alumni Monash University, Australia.
Perjuangan para relawan di lapangan sungguh mengharukan. Data per 6 Desember 2025 menunjukkan betapa totalitasnya gerakan ini. Dari donasi yang terkumpul sebesar Rp 327.534.000, sebanyak 99% telah habis disalurkan.Bantuan tersebut telah menyentuh 146 desa di 11 kabupaten/kota. Kini, sisa kas di tangan hanya tinggal Rp 3.500.000. Jumlah yang sangat kecil untuk menghadapi bencana sebesar ini, namun semangat para relawan tak pernah surut sedikitpun.
Penyaluran kini difokuskan penuh ke wilayah tengah. Koordinator Program, Ajmir Akmal, dengan suara bergetar menyampaikan tekad timnya. Meski lelah mendera, tim relawan tetap berdiri tegak. "Relawan kami selalu standby. Hati kami sakit jika mendengar ada daerah yang belum tersentuh. Kami siap turun, menembus daerah yang bisa dijangkau, bahkan berjuang mencari jalan ke daerah yang belum terjangkau sekalipun," ujar Ajmir.
Di tengah situasi yang semakin berat, Ketua Mata Garuda LPDP Aceh, Wildan, mengirimkan pesan menyentuh kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengajak kita semua untuk tidak sekadar menjadi penonton penderitaan saudara sebangsa melalui layar kaca dan gadget yang kita miliki.
"Kepada semua pihak yang telah melihat kondisi hancurnya Aceh melalui media sosial dan TV, kami memohon... mari sama-sama kita bantu. Berikan perhatian penuh kepada Aceh," ungkap Wildan dengan penuh harap.
"Bencana kali ini betul-betul berat. Aceh sedang menangis dan benar-benar butuh rangkulan bantuan dari semua pihak. Jangan biarkan saudara-saudara kita di dataran tinggi Gayoe, dan wilayah lainnya berjuang sendirian dalam dingin dan lapar," tambahnya menutup pembicaraan.
Langit Aceh mungkin masih mendung, tapi kepedulian kitalah yang akan menjadi matahari bagi mereka.[*]
