Di era serba digital seperti sekarang, internet sudah berubah menjadi kebutuhan pokok layaknya listrik dan air. Aktivitas belajar, kerja, jualan online, bahkan komunikasi dengan keluarga semua bertumpu pada jaringan internet. Maka ketika jaringan mendadak hilang apalagi hanya karena mati lampu pertanyaan besar pun muncul: kenapa layanan sebesar Telkomsel, yang katanya 'kartu sultan' dengan harga paket selangit, masih belum kokoh menghadapi pemadaman listrik?
Telkomsel dikenal dengan jangkauan luas dan kualitas jaringan yang katanya “paling stabil”. Namun di banyak daerah, pemandangan ini jadi rutinitas: listrik padam—jaringan Telkomsel ikut padam. Di mana letak investasi infrastrukturnya? Di mana janjinya soal kualitas terbaik? Dengan harga paket internet yang tidak murah, wajar masyarakat berharap layanan tetap hidup meski listrik mati, karena tower jaringan idealnya punya backup power, bukan bergantung sepenuhnya pada PLN.
Internet bukan lagi sekadar hiburan. Banyak UMKM menggantungkan rezekinya dari siaran live, transaksi online, atau sekadar membalas pesan pelanggan. Pelajar mengandalkan internet untuk kelas daring. Ketika listrik mati dan jaringan pun ikut tenggelam, dampaknya bukan cuma kesal—tapi rugi secara ekonomi dan sosial.
Jika Telkomsel ingin tetap menyandang gelar operator nomor satu, sudah seharusnya mulai membangun mental “tanggung jawab terhadap kualitas”, bukan sekadar “bangga atas banyaknya pengguna”. Infrastruktur harus kuat, tower harus punya backup yang andal, dan harga harus sesuai kualitas.
Karena kalau kartu sultan masih rentan goyah saat listrik padam, maka masyarakat wajar bertanya:
Apakah kita sedang membayar kualitas, atau hanya membayar nama besar?
Internet mahal tapi gampang putus? Di zaman sekarang, itu ironi yang tak lagi bisa dianggap biasa.
Penulis oleh : Syahrul
