Aceh Timur – Banjir hebat yang melanda sejumlah desa di setiap Kecamatan, Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh pada. Kamis 27 November 2025 bukan hanya menghancurkan sejumlah fasilitas umum, seperti jembatan, jalan terputus, sekolah-sekolah rusak lahan sawah, tambak, binatang ternak turut jadi korban (mati) dan juga hanyut terbawa arus air.
Tak ketinggalan, rumah Azhar sapaan akrab Raiz Azhary seorang jurnalis yang bertugas di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara turut dihantam banjir. Raiz menceritakan kepada Inspot.id pada Jum’at (26/12/) bahwa bencana banjir bandang yang menghujam rumahnya di Dusun Lembah, Desa Blang Andam, Kecamatanbandang Aceh Timur pada Kamis (27/11) sekitat pukul 7.25 WIB pagi. Menurutnya selain merendam rumah, arus air yang deras turut memhanyutkan hampir seluruh barang barang berharga miliknya.
“Saya terbangun mendengar suara keras, karena semua pintu terbuka paksa diterjang arus, dan hanya bisa pasrah, semua barang-barang berharga tidak sempat saya selamatkan. Kecuali satu unit ponsel merek Vivo 1 dan sebuah kulkas. Selanjutnya saya lari menyelmatkan diri dengan bekal kain sarung, celana shorts baju singlet sambil memberitahukan tetangga agar berhati – hati karena debit air semakin meningkat tajam.
*Rumah saya terendam, ketinggian air mencapai 1,5 meter, arus datang begitu cepat dalam jangka 20 menit air naik hampir 2 meter. Untungnya, anak, cucu dan menantu saya cepat keluar menyelamatkan diri ke Masjid. Sementara saya harus membantu evakuasi kakak yang kurang sehat, waktu itu saya berpikir banjir biasa karena curah hujan tinggi. Namun banjir kali ini paling parah yang pernah saya alami seumur hidup hingga menyebabkan barang-barang berharga, satu sepeda motor, Vario Thn 2010 terendam.Kaca belakang mobil jenis kijang capsul pecah akibat dihantam kayu terbawa arus, padahal mobil ini hanya pinjam pakai untuk kerja meliput, selain itu, TV merek panasonic 2 unit terendam, 1 mesin cuci, Cosmos, 2 lemari baju, dan surat surat penting, peralatan elektronik lainnya, spring bed tempat tidur, peralatan dapur, semua hanyut terbawa arus air.
Alat kerja jurnalistik turut terendam air dan berlumpur tebal, satu printer, 1 hardisk 500 GB serta 2 flashdisk 8GB hilang terbawa air. Tanpa pikir panjang saya langsung menuju masjid menyelamatkan diri dan di sana saya melihat sudah banyak warga desa tetangga yang mengungsi. dan mereka hanya mampu duduk dengan wajah wajah sedih dan lesu.
Selama tiga malam kami mengungsi di masjid hanya makan nasi tanpa lauk, itu pun sepiring dibagi 2 orang. Setelah makan kami juga harus tahan haus karena tidak ada air. Selama 3 hari kami tidur di lantai masjid dan banyak anak-anak sekitar menangis minta air dan makanan. Kerugian yang saya alami banjir sekitar Rp 90 juta.
Pada hari ke 4 saya bersama sebagian pengungsi lain pulang ke rumah karena air sudah surut guna untuk membersihkan lumpur. Sesampainya di rumah, saya lihat semua pintu dalam keadaan terbuka, lumpur didalam rumah hampir 1 meter. Batang pohon dan sampah padat di dalam rumah. Selain itu disekitar rumah ada 6 rumah kontruksi kayu terlihat rusak ringan, namun barang di dalam nya juga terbawa arus air.
Hingga hari ini, Jum’at 26 Desember 2025, bantuan kami terima berupa sembako dari pemerintah ada, tapi belum mencukupi. Jujur saya yang sangat kami butuhkan saat ini adalah makanan, obat- obatan serta air bersih layak konsumsi. Selain itu pakaian juga sangat kami butuhkan.
Walaupun kondisi saat listrik sudah agak normal dan jaringan internet lumayan stabil, yang sebelumnya untuk mengisi daya masyarakat harus berangkat ke pusat kota Panton Labu jaraknya sekitar 2 kilometer. Itupun sepanjang jalan berdebu dan banyak rumah amburadul, sekolah – sekolah terlihat berlumpur.
Masyarakat masih sangat trauma karena banjir dahsyat dengan ketingian air hampir 2 meter dan ini belum pernah terjadi dalam sejarah hidup saya. Rasa trauma berat terasa saat malam hari apalagi saat hujan turun. Masyarakat pun sangat was-was jika banjir ini kembali terjadi.
Selain korban harta benda, saya juga terjatuh saat evakuasi warga di hari kedua banjir, pipi saya kiri terluka terbentur beton akibatnya darah segar keluar dari hidung dan mulut, namun tidak sempat pingsan. Saya dibawa ke rumah sakit oleh Keuchik Bintah dan hanya menjalani perawatan satu malam, selanjutnya saya pulang kerumah, walau dokter menganjurkan saya harus dirawat inap atau ke rumah sakit Cut Mutia Aceh Utara karena keluar dari dari hidung dan mulut akibat terbentur beton.
“Anjuran dokter tidak saya dengar saat itu, saya merasa trauma dan minta bantu untuk di antar kerumah oleh Masri rekan seprofesi,”kata Raiz seraya menambahkan, sesampai dirumah kondisi tubuhnya lemah dan harus di infus selama 4 hari.
“Seminggu kemudian saya baru ke rumah sakit Cut Mutia Aceh Utara untuk scanning kepala seperti anjuran dokter sekaligus rawat jalan. Hingga saat ini rumah saya masih berantakan dan juga mobil kijang masih berada di halaman dipenuhi lumpur dengan kondisi mesin rusak dan kaca belakang pecah,” demikian sebutnya dengan mata berkaca kaca. . .
Tags:
Opini
