Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia harus berorientasi pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, bukan sekadar pencapaian angka atau indikator administratif.
“Sains tidak boleh eksklusif, teknologi harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan pengetahuan tidak boleh tumbuh meninggalkan masyarakat,” kata Brian melalui keterangan di Jakarta, Minggu, (21/12/2025).
Ia menekankan perlunya perubahan paradigma melalui Program Semesta agar teknologi tidak lagi berjarak dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, tantangan besar dalam hilirisasi riset adalah fenomena death valley atau “lembah kematian” inovasi, di mana hasil riset berhenti di laboratorium.
Brian mendorong agar prototipe hasil penelitian dapat bertransformasi menjadi produk komersial guna menekan ketergantungan impor.
Sementara itu, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani menyampaikan kolaborasi strategis antara Kemdiktisaintek dan LPDP telah menghasilkan 137 poster dan produk inovasi dari Program Semesta yang dipamerkan sebagai bukti kedaulatan berpikir bangsa.
Najib mengatakan, sebanyak 100 karya terbaik dari skema Berdikari akan dirangkum dalam sebuah buku agar mudah diakses publik.
“Seratus kisah itu menunjukkan bahwa sains dan teknologi tidak berdiri di luar masyarakat, melainkan menjadi motor penggerak yang memperkuat daya hidup, produktivitas, dan ketahanan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga memaparkan sejumlah produk riset unggulan yang rampung pada 2025, di antaranya pemanfaatan sabut kelapa, inovasi IoT untuk lahan kering, teknologi jagung organik, serta pengolahan limbah pasar menjadi pakan ternak.
Selain itu, Kemdiktisaintek memperkenalkan skema Suryakanta sebagai instrumen baru untuk mengukur dampak riset perguruan tinggi.
“Melalui Suryakanta, fokus kinerja bergeser dari sekadar menghitung jumlah riset menjadi mengukur besarnya manfaat riset bagi masyarakat,” kata Najib.[*]
.webp)