Aceh kembali diuji. Serangkaian bencana alam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar menghadirkan banjir, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi masyarakatnya.
Hingga hari ini, Aceh belum sepenuhnya pulih. Banyak warga masih bertahan di pengungsian, rumah-rumah belum layak huni, aktivitas ekonomi lumpuh, dan trauma terus membekas di benak para korban. Bagi mereka, bencana bukan peristiwa sesaat, melainkan kenyataan pahit yang harus dijalani setiap hari.
Bencana ini kerap disebut sebagai musibah alam. Namun jika ditelaah lebih dalam, apa yang terjadi di Aceh bukan semata akibat hujan deras atau cuaca ekstrem. Kerusakan lingkungan, tata kelola lahan yang kurang bijak, serta minimnya upaya mitigasi bencana turut memperparah dampak yang dirasakan masyarakat. Alam seolah memberi peringatan keras bahwa keseimbangan yang selama ini diabaikan kini menuntut konsekuensi.
Yang paling menyayat hati adalah kenyataan bahwa masyarakat kecil menjadi pihak yang paling menderita. Petani kehilangan lahan, nelayan kehilangan mata pencaharian, anak-anak terpaksa menghentikan sekolah sementara, dan para lansia harus bertahan dalam kondisi serba terbatas. Dalam situasi seperti ini, bantuan materi memang penting, tetapi empati, kehadiran, dan keberpihakan yang nyata jauh lebih bermakna.
Bencana alam seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Pemerintah dituntut tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga serius membangun sistem pencegahan, mitigasi, dan pemulihan jangka panjang. Di sisi lain, masyarakat juga perlu dilibatkan secara aktif dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Aceh adalah daerah yang kuat, dengan sejarah panjang bangkit dari luka besar. Namun kekuatan itu tidak seharusnya terus-menerus diuji tanpa adanya perubahan nyata. Sudah saatnya bencana tidak lagi dipandang sebagai peristiwa yang “datang dan pergi”, melainkan sebagai peringatan agar pembangunan berjalan selaras dengan alam dan berpihak pada keselamatan manusia.
Aceh belum baik-baik saja. Dan selama luka-luka itu belum benar-benar disembuhkan, tanggung jawab kita bersama adalah memastikan bahwa kepedulian tidak berhenti pada berita, tetapi menjelma menjadi aksi nyata.
Penulis oleh: Nisa Ulfitri | Mahasiswa KPI USM Banda Aceh
