Masifnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus terjadi. Hal ini berdampak pada angka jumlah pengangguran semakin tinggi. Kondisi ini semakin dipersulit dengan minimnya lapangan pekerjaan dan harus berlomba-lomba dengan masifnya serbuan tenaga kerja asing yang sangat mudah mendapatkan pekerjaan di sektor-sektor strategis. Hal ini memunculkan persoalan baru yang berdampak pada ketahanan ekonomi keluarga, karena kebutuhan hidup tak bisa ditunda dan harus segera terpenuhi.
Fenomena female breadwinners (perempuan pencari nafkah dalam keluarga), seakan menjadi solusi agar perekonomian keluarga tetap berjalan. Yang seharusnya seorang istri menerima nafkah dari suami, harus berganti peran bahkan memiliki peran double menjadi ibu dan tulang punggung keluarga. Seiring dengan perubahan zaman, perempuan pekerja semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan menurut survei BPS 2024 menyebutkan, ada 14,37 persen pekerja Indonesia merupakan female breadwinners yang berstatus menikah dan memiliki penghasilan paling besar.
Berdasarkan hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 8-11 Desember 2025, mengungkapkan keberadaan female breadwinners muncul ditengah masyarakat bukanlah tanpa sebab. Female breadwinners hadir ditengah masyarakat akibat tekanan kondisi ekonomi keluarga yang tidak baik-baik saja. Sehingga seakan status tersebut menjadi tren ketenagakerjaan dan kesetaraan gender. Ditambah peluang dan kesempatan kerja bagi perempuan semakin luas seiring meningkatnya tingkat pendidikan perempuan (kompas.id ,22/12/2025)
Hilangnya Fungsi Lelaki Sebagai Pencari Nafkah
Tidak dipungkiri, fenomena female breadwinners diakibatkan minimnya lapangan pekerjaan bagi laki-laki yang memiliki fungsi sebagai pencari nafkah. Fenomena ini menimbulkan hal positif yaitu dapat membantu perekonomian keluarga, sementara sang suami belum mendapatkan pekerjaan. Sehingga setidaknya roda perekonomian keluarga bisa tetap berjalan. Namun ada juga sisi negatif yang harus diwaspadai bahayanya yang terselubung dibaliknya. Tatkala seorang ibu menjadi tulang punggung keluarga, maka ia memiliki dua tugas yang tidak mudah, sebagai seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Dan peran seorang ibu yang sesungguhnya, untuk mendidik dan mengurus anak-anaknya akan teralihkan sehingga anak akan kehilangan waktu dan perhatian dari sang ibu .
Kurangnya perhatian dari sang ibu dari fenomena female breadwinners bak makan buah simalakama. Tatkala sang pencari nafkah sesungguhnya tak juga mendapatkan pekerjaan, akan berujung pada konflik yang mengakibatkan pada perceraian. Pasalnya, sang istri merasa dialah yang menjadi tulang punggung keluarga yang bukan tanggung jawabnya.
Maraknya perceraian salah satunya akibat faktor ekonomi. Fenomena female breadwinners telah menghilangkan peran fungsi laki-laki sebagai pencari nafkah. Dan anehnya, pemerintah seharusnya memberikan peluang lapangan pekerjaan kepada laki-laki lebih luas, bukan sebaliknya justru peluang dan kesempatan bekerja untuk perempuan yang semakin banyak. Sehingga perempuan merasa tidak membutuhkan laki-laki karena telah mampu menafkahi dirinya dan keluarganya secara mandiri.
Perempuan Penopang Roda ekonomis Kapitalis
Dalam sistem kapitalisme, perempuan juga diarahkan untuk berkontribusi secara ekonomi. Fenomena female breadwinners dijadikan alat agar perempuan terus berdaya dalam roda perekonomian negara. Opini perempuan produktif pun terus digaungkan dan perempuan yang hanya dirumah mengurus anak dan suami dianggap sebagai beban. Padahal sangat jelas, tatkala fenomena female breadwinnwers ditunggangi oleh sistem kapitalis, bahaya sedang mengintai yang akan menghancurkan keluarga dan generasi.
Bersamaan itu pula geliat isu gender semakin memperkuat opini bahwa perempuan bisa berdiri tanpa bantuan laki-laki atau dengan kata lain menjadi perempuan mandiri. Sehingga didalam keluarga, seorang perempuan/istri tidak ada lagi rasa menghargai atau menghormati suaminya. Karena, materilah yang menjadi batasan penghargaan seorang istri kepada suaminya. Sehingga tatkala materi tak dapat diberikan, maka hilangnya peran suami dalam keluarga.
Hal ini tentu harus diwaspadai oleh para perempuan agar mereka menyadari bahwa kondisi ekonomi keluarga yang tidak baik-baik saja, dimanfaatkan oleh sistem yang hanya fokus pada materi agar perempuan tidak melaksanakan tugas utamanya sebagai ibu dan pengurus anak, suami dan keluarga. Padahal sesungguhnya, inilah hanya jebakan agar roda perekonomian kapitalis terus berjalan.
Rusaknya sistem Kehidupan Akibat Kapitalis
Fenomena female breadwinners harus disadari sebagai sebuah kerusakan akibat sistem kehidupan ala kapitalisme. Islam menetapkan nafkah sebagai kewajiban para suami, bukan karena superioritas gender melainkan pembagian peran yang adil agar keluarga stabil dan terjaga. Kegagalan sistem ekonomi kapitalis dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi laki-laki, upah murah dan biaya hidup yang tinggi, membuat perempuan terdorong masuk dalam pasar kerja bukan karena pilihan melainkan paksaan struktural.
Hal ini mengakibatkan role inversion (pembalikan peran) antara perempuan sebagai seorang istri dan laki-laki sebagai seorang suami. Laki-laki kehilangan fungsi kepemimpinannya didalam keluarga qowwam), sedangkan perempuan menanggung peran ganda yang mengakibatkan kerapuhan tatanan keluarga dan berdampak pada generasi.
Sehingga Islam memandang solusi bukan hanya sekadar normalisasi female breadwinnwers, melainkan mengembalikan sistem Islam yang menjamin nafkah laki-laki melalui sistem ekonomi yang adil. Dan mewajibkan negara menjalankan perannya untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang luas dan gaji yang layak agar setiap kepala keluarga mampu menafkahi keluarganya serta memberikan perlindungan peran fitrah laki-laki dan perempuan sesuai syariat.[*]
Penulis oleh : Siti Rima Sarinah
