Aceh Utara — Empat puluh enam hari pascabanjir bandang menerjang Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, kondisi permukiman warga masih memprihatinkan. Hingga Selasa (20/1/2026), puing-puing rumah dan fasilitas umum masih berserakan, sementara warga yang kehilangan tempat tinggal diliputi kecemasan menyambut bulan suci Ramadhan yang kian dekat.
Sebagian warga terpaksa bertahan dalam kondisi serba terbatas tanpa kepastian kapan hunian sementara akan dibangun. Situasi ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memperberat beban psikologis masyarakat yang berharap dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan aman dan layak.
Banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan parah pada rumah, kios warga, serta infrastruktur vital. Jalur rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Bungkah dengan Stasiun Krueng Geukueh dilaporkan lumpuh total akibat tergerus derasnya arus banjir.
Selain itu, jembatan rel yang selama ini dimanfaatkan warga sebagai akses penyeberangan mengalami kerusakan berat. Pihak sekolah, termasuk MIN 3 Aceh Utara, telah mengeluarkan larangan tegas bagi siswa untuk melintasi jembatan tersebut karena dinilai membahayakan keselamatan. Akibatnya, sejumlah siswa asal Desa Bungkah terpaksa menempuh jalur memutar dengan jarak yang lebih jauh untuk berangkat ke sekolah.
Zur, warga Dusun Pasi, menyebutkan bahwa kerusakan di wilayahnya tergolong parah. Banyak rumah warga hancur total dan tidak lagi layak huni. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah penyaluran bahan pokok serta pembangunan Hunian Sementara (Huntara).
Hal senada disampaikan Hasan Basri, warga Dusun Tingoh. Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan membangun Huntara dan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, sembari menunggu realisasi pembangunan Hunian Tetap (Huntap).
“Kami sangat berharap pemerintah segera membangun Huntara. Ramadhan sudah dekat, kami ingin bisa beribadah dengan tenang dan layak,” ujar Hasan Basri.
Warga juga mengeluhkan lambannya proses pembersihan material sisa banjir. Meski beberapa akses jalan darat mulai dapat dilalui secara terbatas, proses pembersihan puing-puing bangunan masih terkendala ketiadaan alat berat.
Hingga kini, tumpukan kayu dan reruntuhan bangunan masih terlihat di berbagai sudut desa, menandakan proses pemulihan pascabencana belum berjalan maksimal.
Warga Desa Bungkah berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera merespons kebutuhan mendesak tersebut, terutama penyediaan hunian sementara dan percepatan pemulihan infrastruktur, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih layak, khususnya menjelang bulan suci Ramadhan. [SB]
