Ratusan Dayah Rusak Diterjang Banjir, Aceh Utara Rugi Rp268 Miliar


Aceh Utara – Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Utara meninggalkan luka mendalam, khususnya bagi dunia pendidikan keagamaan. Hasil pendataan sementara mencatat, kerugian fasilitas dayah, pesantren, dan balai pengajian mencapai Rp268 miliar, akibat banjir yang merusak ratusan lembaga pendidikan Islam.

Anggaran tersebut diprioritaskan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi dayah/pondok pesantren serta balai pengajian, yang selama ini menjadi pusat pendidikan agama dan pembinaan moral masyarakat Aceh Utara.

Pendataan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M, yang meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya Dinas Pendidikan Dayah, segera melakukan inventarisasi kerusakan pascabencana. Data tersebut selanjutnya diusulkan dalam Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasnas) untuk mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara, Teungku Muhammad Yunus, S.Hi, menyebutkan bahwa total kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi bidang pendidikan dayah mencapai Rp268.246.550.000.

“Anggaran tersebut telah kami usulkan dalam dokumen Jitupasnas melalui BPBD dan Bappeda Aceh Utara,” ujar Tgk. Muhammad Yunus di sela kegiatan gotong royong Aparatur Sipil Negara (ASN) Aceh Utara di Dayah Tinggi STIES Samudera Pase, Kecamatan Baktiya, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, tim pendataan telah diturunkan langsung ke lapangan untuk melakukan pengkajian kerusakan dan kerugian. Hasilnya, tercatat 211 lembaga dayah dan 1.301 balai pengajian mengalami dampak serius akibat banjir.

Kerusakan tersebut meliputi bangunan fisik seperti asrama santri, ruang belajar, mushalla atau masjid, rumah dewan guru, dapur umum, ruang pustaka, hingga fasilitas MCK. Selain itu, sarana belajar seperti kitab, Al-Qur’an, perlengkapan tidur santri, peralatan masak, hingga pakaian santriwan dan santriwati juga rusak atau hanyut terbawa banjir.

Tak hanya itu, lingkungan sekitar dayah dan balai pengajian juga dipenuhi lumpur dan material banjir, sehingga membutuhkan pembersihan menyeluruh sebelum aktivitas belajar dapat kembali normal.

Lebih lanjut, Tgk. Muhammad Yunus berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, serta lembaga donor agar proses pemulihan dapat segera dilakukan.

“Dayah dan balai pengajian adalah benteng pendidikan moral masyarakat. Jika tidak segera direhabilitasi, dampaknya akan sangat besar terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak kita,” pungkasnya.[ sz07]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama