Jejak Sunyi Pahlawan Lokal Aceh: Alasan Saya Terus Menulis Kisah Pejuang yang Terlupakan

Saya sering ditanya mengapa saya begitu konsisten mengangkat kisah pahlawan lokal Aceh—nama-nama yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah nasional, tetapi tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Jawabannya sederhana: karena saya bangga.

Bangga pada keberanian mereka. Bangga pada keteguhan mereka. Dan lebih dari itu, karena sebagian dari kisah itu mengalir dalam darah saya sendiri.

Salah satu sosok yang terus saya telusuri adalah Maratim, seorang prajurit (dalam bahasa Kluet disebut buyut, dalam keluarga saya) yang ikut berjuang melawan penjajah Belanda di bawah komando Panglimo Rajo Lelo IV pada tahun 1926 di Gampong Sapik, Kecamatan Kluet Timur, Aceh Selatan.

Maratim bukan sekadar tokoh dalam cerita lama. Ia adalah bagian dari garis keturunan keluarga saya—seorang pejuang yang kisahnya diwariskan secara turun-temurun oleh para orang tua kami.

Menurut cerita yang saya dengar sejak kecil, Maratim baru saja menikah dengan seorang perempuan bernama Ambe Mani. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ia memilih meninggalkan kehidupan barunya untuk turun ke medan perang.

Bahkan ada kisah yang masih diingat masyarakat: inai merah di tangannya yang dalam tradisi Aceh disebut kacar, belum sempat kering, tetapi ia sudah mengangkat senjata. Ia kemudian bergabung dengan para pejuang di Padang Kelulum, menghadapi pasukan Belanda yang dipimpin Kapten J. Paris.

Itu bukan sekadar keberanian. Itu adalah pilihan hidup—sebuah keputusan yang menempatkan tanah air di atas kepentingan pribadi.

Maratim kemudian gugur dalam pertempuran. Namun hingga kini, keberadaan makamnya masih menjadi tanda tanya. Sebagian masyarakat meyakini ia dimakamkan di wilayah Menggamat, sementara versi lain menyebutkan bahwa sebagian prajurit yang tertangkap dibawa Belanda ke negeri mereka untuk ditahan dan disiksa.

Ketidakpastian itu tidak menghapus jejaknya. Justru sebaliknya, hal itu menjadi alasan bagi saya untuk terus mencari, menelusuri, dan menuliskan kembali kisahnya.

Bagi saya, ini bukan sekadar penelitian sejarah. Ini adalah bentuk penghormatan.

Karena itu pula saya turut mengangkat kisah tokoh-tokoh lain seperti Teungku Raja Ankasah, Teuku Cut Ali, Panglimo Rajo Lelo, Mat Sisir, hingga Teuku Ali Usuf. Mereka mungkin tidak selalu hadir dalam buku pelajaran, tetapi mereka hidup dalam denyut sejarah rakyat Aceh.

Saya percaya, sejarah bukan hanya milik mereka yang tercatat. Sejarah juga milik mereka yang terlupakan.

Dan mungkin, dari upaya kecil ini—dari tulisan-tulisan sederhana ini—suatu hari nanti kita akan menemukan kembali jejak yang hilang, termasuk makam Maratim.

Namun lebih dari itu, saya telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: rasa bangga.

Bahwa di dalam diri saya, mengalir darah seorang pejuang.

Dan itu adalah warisan yang tidak akan pernah hilang, meski seorang prajurit telah lama tiada—namun semangatnya tetap hidup dalam ingatan.

Oleh: Syahrul Amin (PMII Aceh)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama