Krisis Moral Pendidikan dan Muhasabah

Opini - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum untuk mengenang jasa para tokoh pendidikan sekaligus mengevaluasi kondisi pendidikan nasional. Berbagai fakta menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi sekadar mengalami penurunan kualitas akademik, tetapi juga krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah maupun kampus terus meningkat. Ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk menimba ilmu justru berubah menjadi ruang yang menakutkan bagi sebagian pelajar dan mahasiswa.

Di sisi lain, budaya kecurangan juga semakin mengakar. Praktik joki UTBK, plagiat, hingga manipulasi nilai terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Fenomena ini menggambarkan hilangnya nilai kejujuran dan integritas dalam dunia akademik. Pendidikan yang seharusnya melahirkan generasi intelektual justru terjebak dalam budaya instan dan pragmatis.

Ancaman lain yang tidak kalah serius adalah meningkatnya kasus narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Anak-anak muda yang seharusnya menjadi aset bangsa justru banyak terseret dalam lingkaran pergaulan bebas dan kriminalitas. Bahkan, relasi antara guru dan murid pun mengalami perubahan yang mengkhawatirkan. Banyak pelajar semakin berani menghina guru, bahkan ada kasus guru dipenjara karena memberikan hukuman atau teguran kepada siswa.

Fenomena ini menjadi tanda bahwa pendidikan tidak hanya mengalami krisis akademik, tetapi juga krisis moral dan kepribadian. Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia beradab dan bertakwa.

Potret Buram Dunia Pendidikan

Kasus pelecehan seksual yang melibatkan pelajar maupun mahasiswa semakin sering terjadi. Ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman justru dipenuhi ancaman moral. Selain itu, praktik kecurangan seperti joki UTBK, plagiat, hingga manipulasi nilai semakin dianggap lumrah demi mengejar kesuksesan instan.

Tidak hanya itu, peredaran narkoba di kalangan pelajar juga meningkat. Hubungan antara murid dan guru pun mengalami degradasi. Banyak siswa berani menghina guru, bahkan ada guru yang dipidanakan ketika mendisiplinkan muridnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan saat ini gagal membentuk kepribadian mulia. Pendidikan lebih menekankan aspek materi dan prestasi akademik semata, sementara nilai moral dan agama semakin terpinggirkan.

Allah SWT telah mengingatkan pentingnya menjaga diri dan keluarga dari kerusakan moral sebagaimana firman-Nya: 

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia yang selamat dunia dan akhirat, bukan hanya mengejar kesuksesan materi.

Sistem Sekuler Melahirkan Krisis Kepribadian

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, banyak pelajar tumbuh dengan pola pikir pragmatis, liberal, dan individualistis. Kesuksesan diukur dari materi dan jabatan, bukan dari akhlak dan ketakwaan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan bahwa inti pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak. Ilmu tanpa moral hanya akan melahirkan kerusakan. Karena itu, ketika pendidikan kehilangan landasan agama, lahirlah generasi cerdas tetapi miskin adab.

Budaya mencontek, plagiat, hingga berbagai bentuk kecurangan merupakan bukti hilangnya nilai kejujuran dalam dunia pendidikan. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menipu, maka ia bukan termasuk golonganku.”(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa segala bentuk kecurangan adalah perilaku tercela yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pendidikan Islam Membentuk Insan Bertakwa

Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dijamin negara. Sistem pendidikan Islam dibangun di atas asas akidah Islam sehingga melahirkan insan yang cerdas sekaligus bertakwa. Allah SWT berfirman:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu harus disertai keimanan. Pendidikan Islam tidak hanya mencetak manusia pintar, tetapi juga manusia yang takut kepada Allah SWT.

Pendidikan Islam juga fokus pada pembentukan kepribadian Islam, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap berdasarkan syariat Islam. Dengan demikian, pelajar tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Islam tidak hanya mengatur pendidikan individu, tetapi juga menciptakan sistem sosial yang menjaga masyarakat dari kerusakan. Negara wajib menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan agar tercipta efek jera dan keamanan sosial. Selain itu, Islam memerintahkan agar lingkungan masyarakat dibangun di atas ketakwaan dan amar makruf nahi mungkar. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya milik sekolah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan negara.

Momentum Hardiknas untuk Muhasabah

Hardiknas seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Krisis pendidikan hari ini tidak cukup diselesaikan dengan perubahan kurikulum atau teknologi pembelajaran semata. Yang lebih mendasar adalah mengembalikan pendidikan kepada tujuan hakikinya, yaitu membentuk manusia berilmu, beradab, dan bertakwa.

Tanpa pondasi agama yang kuat, pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara akademik tetapi rapuh moralnya. Sebaliknya, ketika pendidikan dibangun di atas akidah dan syariat Islam, maka akan lahir generasi unggul yang tidak hanya membawa kemajuan dunia, tetapi juga keberkahan bagi masyarakat dan bangsa.

Wallahua’alam Bishowab.

Penulis oleh: Imas Rukmini

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama