Pengunjung Soroti Kondisi Museum Islam Samudra Pasai: Rusak dan Terabaikan, Pengelola Diminta Bertindak

Aceh Utara – Kondisi Museum Islam Samudra Pasai di Aceh Utara kian memprihatinkan. Kerusakan yang sebelumnya telah terjadi di sejumlah bagian bangunan kini semakin parah setelah museum tersebut terdampak banjir bandang. Berbagai fasilitas yang rusak dan terbengkalai memunculkan sorotan dari para pengunjung yang berharap adanya perhatian serius dari pihak pengelola.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kebocoran ditemukan di berbagai titik bangunan. Bagian loteng terlihat mengalami pelapukan dan kerusakan hampir di seluruh sisi bangunan. Pengerjaan pintu toilet juga terkesan mangkrak, sementara satu unit toilet yang telah lama rusak belum kunjung diperbaiki dan kini beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan peralatan kebersihan. Di sisi lain, ketersediaan air bersih di lingkungan museum juga tidak berjalan normal.

Kerusakan turut ditemukan pada sejumlah kunci lemari pajang koleksi. Akibatnya, banyak benda bersejarah tidak dapat dibersihkan maupun dirawat secara optimal. Selain itu, sebagian unit pendingin ruangan (AC) tidak berfungsi, membuat ruangan terasa panas dan kurang nyaman bagi pengunjung. Minimnya penerangan di beberapa area museum juga semakin mengurangi kenyamanan saat berkunjung.

Yang lebih memprihatinkan, ruang bibliografi yang seharusnya menjadi pusat referensi sejarah dan literatur mengenai peradaban Samudra Pasai tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut membuat pengunjung kehilangan kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai sejarah kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Salah seorang pengunjung, Jufrizal, yang datang dari Jakarta dan mengunjungi museum tersebut pada Rabu (10/6/2026), mengaku prihatin melihat kondisi museum yang menyimpan jejak penting sejarah Islam tersebut.

"Saya cukup sedih melihat kondisi Museum Islam Samudra Pasai seperti ini. Padahal ini bukan museum biasa, tetapi tempat yang menyimpan sejarah besar tentang peradaban Islam di Nusantara. Seharusnya bangunan dan koleksinya dirawat dengan baik," kata Jufrizal kepada wartawan.

Menurutnya, kondisi fasilitas yang rusak mencerminkan kurangnya perhatian dalam pengelolaan museum. Ia berharap pihak yang bertanggung jawab tidak menunggu kerusakan semakin parah sebelum melakukan pembenahan.

"Kalau dibiarkan terus, yang rugi bukan hanya Aceh, tetapi bangsa ini. Generasi muda akan kehilangan ruang belajar sejarah yang layak. Pengelola harus memahami bahwa tugas mereka bukan sekadar menjaga gedung tetap buka, tetapi memastikan warisan sejarah ini terpelihara dan dapat dinikmati masyarakat dengan baik," ujarnya.

Jufrizal menilai Museum Islam Samudra Pasai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan pusat edukasi. Namun, potensi tersebut sulit berkembang apabila fasilitas dasar dan perawatan koleksi terus diabaikan.

"Banyak orang dari luar daerah datang dengan harapan mendapatkan pengalaman belajar sejarah yang berkesan. Sangat disayangkan jika yang mereka temukan justru bangunan bocor, ruangan panas, pencahayaan minim, dan fasilitas yang tidak terurus. Ini harus menjadi evaluasi bersama," tegasnya.

Berbagai persoalan tersebut menjadi peringatan bahwa pengelolaan Museum Islam Samudra Pasai membutuhkan langkah cepat dan nyata. Sebagai simbol kejayaan peradaban Islam di Nusantara, museum ini semestinya mendapat perhatian serius agar fungsi pelestarian, edukasi, dan wisata sejarah dapat berjalan optimal.

Jika tidak segera ditangani, kerusakan yang terus terjadi dikhawatirkan bukan hanya mengancam bangunan dan koleksi museum, tetapi juga mengikis nilai warisan sejarah yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Aceh. Lebih jauh, kondisi tersebut berpotensi meredupkan daya tarik Museum Islam Samudra Pasai sebagai salah satu pusat pembelajaran sejarah Islam yang penting di Indonesia.[wir]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama