Semen Mulai Tersedia di Lhoksukon, Harga Masih Bertahan Rp85–90 Ribu per Sak

 

Aceh Utara – Pasca permintaan penambahan pasokan semen oleh Pemerintah Aceh melalui PT Semen Andalas Indonesia (SAI), ketersediaan semen di sejumlah toko bangunan di kawasan Kota Lhoksukon, Aceh Utara, mulai berangsur normal.

Meski demikian, harga jual semen di tingkat pengecer masih tergolong tinggi, berkisar antara Rp85.000 hingga Rp90.000 per sak. Kondisi ini terjadi walaupun harga Delivery Order (DO) dari PT SAI saat penebusan masih berada pada harga normal tanpa adanya lonjakan signifikan.

Persatuan Pekerja Sejahtera Indonesia (PPSI) Aceh Utara menilai harga tersebut tidak sesuai dengan Standar Satuan Harga (SSH) yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

“Kita ambil contoh di Dinas Perkim, harga RAB semen tercatat sebesar Rp65.000 per sak, sementara di dinas lainnya ada yang mencapai Rp70.000 per sak. Begitu juga dengan harga bata merah yang kini berkisar antara Rp700 hingga Rp1.000 per buah,” ujar Ketua PPSI Aceh Utara, Razali.

PPSI mendesak Bupati Aceh Utara untuk segera mengambil langkah kebijakan terkait penyesuaian harga material konstruksi agar sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Hal ini dinilai penting agar tidak merugikan para kontraktor yang telah menandatangani kontrak pekerjaan.

“Kami meminta pemerintah daerah segera menyikapi persoalan ini. Jangan sampai kontraktor yang sudah terikat kontrak harus menanggung kerugian akibat ketidaksesuaian harga,” tegasnya.

Razali juga mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, saat ini banyak kontraktor pelaksana yang terpaksa menunda pekerjaan, meskipun progres pekerjaan telah mencapai sekitar 30 persen.

Menurutnya, kondisi ini membuat para rekanan proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berada dalam posisi sulit.

“Situasi sekarang ibarat maju kena, mundur juga kena bagi para kontraktor,” ungkapnya.

Ia berharap Bupati Aceh Utara tidak mengabaikan persoalan tersebut, mengingat dampaknya yang luas terhadap kelangsungan pembangunan infrastruktur di daerah.

“Bagaimana pembangunan bisa berjalan optimal jika kondisi seperti ini terus dibiarkan? Ini juga berkaitan dengan realisasi visi-misi Aceh Utara Bangkit,” pungkasnya.[wir]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama