Semarak Milad 8 Abad Samudera Pasai, Panggung Kebangkitan UMKM dan Budaya Aceh Utara



Aceh Utara - Peringatan Hari Jadi ke-800 Kabupaten Aceh Utara dan Milad 8 Abad Samudera Pasai berlangsung semarak di halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Senin (7/9/2026).

Rangkaian kegiatan yang dikemas melalui Piasan Pase 2026 tersebut tidak hanya menghadirkan seremoni pemerintahan, tetapi juga memadukan  sejarah, adat, budaya, keislaman, kuliner, ekonomi kreatif, pameran pembangunan hingga hiburan masyarakat.

Perhelatan yang mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” ini dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, mulai 7 hingga 13 September 2026.

Pembukaan ke-800 tahun Samudera Pasai diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, Shalawat dan Doa, Kemudian sambutan oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE.,MM atau yang akrab di sapa Ayahwa dan dilanjutkan oleh Menteri Sosial RI Gus Ipul, sekaligus membuka HUT Ke 800 Samudera Pasai, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2026

Malam puncak pembukaan menjadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian. Ribuan masyarakat memadati halaman Kantor Bupati Aceh Utara dan menyaksikan berbagai pertunjukan yang mengangkat identitas serta sejarah tanah Pase.Islam

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, SE. MM dalam sambutannya mengatakan, usia 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan daerah sekaligus menentukan arah pembangunan ke depan.

“Masyarakat tidak boleh larut dalam berbagai persoalan yang dihadapi. Termasuk setelah banjir yang sempat berdampak terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah kawasan Aceh Utara”.

“Bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi jangan sampai merobohkan semangat kita. Banjir boleh meninggalkan lumpur di dalam rumah kita, tetapi jangan biarkan ia meninggalkan keputusasaan di dalam hati kita,” ujar Bupati.

Semangat tersebut, kata Bupati, sejalan dengan pelajaran yang dapat diambil dari sejarah Samudera Pasai. Kerajaan Islam yang berkembang di kawasan Aceh Utara tersebut pernah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, generasi saat ini dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar cerita masa lalu.

“Masyarakat Aceh Utara hari ini tidak boleh hanya sekadar menjadi penonton sejarah. Kita harus menjadi pewaris semangat para pendahulu,” ujarnya.

Bupati mengatakan warisan terbesar dari sejarah bukan hanya peninggalan fisik, tetapi juga nilai perjuangan, kemampuan membangun jaringan perdagangan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta semangat masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.

“Sejarah Samudera Pasai mengajarkan kepada kita bahwa kejayaan tidak lahir dari keadaan yang selalu mudah, tetapi dari kemampuan manusia untuk melihat peluang di tengah tantangan,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat, pemerintah, ulama, tokoh adat, pemuda, serta seluruh elemen daerah untuk mengambil peran dalam membangun masa depan Aceh Utara. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama