Kemerdekaan yang Tertahan di Antara Lumpur dan Air


Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka yang dipegang di tengah ruang sederhana, ditemani secangkir kopi, barang-barang seadanya, dan suasana yang begitu ‘rakyat’. Namun justru dari kesederhanaan itulah, muncul gambaran yang jauh lebih besar: betapa bangsa ini masih hidup dari penjara ke penjara bukan lagi besi dan tembok fisik, tetapi penjara ketidakpedulian, penjara birokrasi, dan penjara politik kebijakan.

Tan Malaka pernah menulis: “Siapa ingin merdeka harus bersedia dipenjara.” Kalimat itu seperti tamparan bagi realitas hari ini, ketika ribuan warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat justru menjadi "tahanan" keadaan terkunci dalam kubangan banjir, kehilangan rumah, kehilangan akses pangan, listrik, dan rasa aman. Mereka hidup dalam penjara bencana, tetapi ironisnya, negara masih belum menganggap derita itu pantas disebut sebagai bencana nasional.

Apakah penderitaan harus lebih besar dulu baru dihitung berharga?

Haruskah lebih banyak korban jatuh agar negara tergugah untuk menetapkan status darurat nasional?

Kita sering berteriak tentang kemerdekaan, tetapi lupa bahwa merdeka berarti bebas dari rasa takut kehilangan hidup, tanah, dan masa depan setiap kali hujan turun.

Foto ini bukan sekadar tangan yang memegang buku. Itu seperti gambaran rakyat yang masih memegang harapan bahwa gagasan, perjuangan, dan keberanian berbicara masih hidup. Tetapi harapan tak bisa berdiri sendiri. Ia butuh negara yang hadir, bukan negara yang menonton dari jauh sambil sibuk mempertimbangkan angka, syarat, dan rapat.

Air bah telah menelan kampung, sawah, dan sejarah tetapi jangan biarkan ia juga menelan kemanusiaan.

Jika Tan Malaka pernah bersedia dipenjara demi kemerdekaan, maka hari ini pertanyaannya terbalik:

Apakah kemerdekaan rakyat harus kembali “dipenjara” hanya karena keputusan politik dan birokrasi yang lambat bergerak?

Dalam deru banjir tiga provinsi itu, yang kita dengar bukan hanya suara air tetapi suara rakyat yang menuntut: bukan sekadar bantuan, tetapi pengakuan bahwa penderitaan mereka layak dianggap perjuangan nasional.[*]

Penulis oleh : Syahrul 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama