Jembatan ini memiliki sejarah panjang kerusakan. Berdasarkan penuturan warga, jembatan Singgah Mata pertama kali hanyut pada tahun 2014 akibat banjir besar. Pemerintah sempat membangun jembatan darurat sebagai solusi sementara, namun hanya mampu bertahan beberapa tahun sebelum kembali rusak. Setelah itu, masyarakat secara swadaya membuat rakit sebagai sarana penyeberangan, namun upaya tersebut juga tidak berlangsung lama karena kondisi arus sungai yang deras dan tidak menentu.
Puncaknya, pada banjir bandang terakhir, seluruh sisa sarana penyeberangan lenyap. Saat ini, di lokasi hanya tersisa patahan tiang kayu serta bekas fondasi jembatan lama yang menjadi saksi terputusnya akses vital masyarakat.
Jembatan Singgah Mata bukan sekadar infrastruktur penghubung biasa. Jembatan ini menghubungkan sedikitnya dengan empat Gampong lain, yakni Gampong Cot Kupok, Pucok Alue, Cot Paya, dan Matang Raya. Selain sebagai jalur utama aktivitas harian masyarakat, jembatan tersebut juga menjadi urat nadi perekonomian warga, khususnya dalam mengangkut hasil pertanian.
Kawasan ini dikenal sebagai wilayah persawahan yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian padi. Putusnya jembatan menyebabkan biaya angkut hasil panen meningkat drastis dan berdampak langsung pada pendapatan petani.
Salah seorang warga Gampong Singgah Mata, Muhammad Ali yang akrab disapa Jidan alias Bodrek, (Sabtu, 24/01/2026), mengungkapkan keresahan masyarakat. Menurutnya, jembatan Singgah Mata merupakan sarana penting yang menghidupkan nadi ekonomi warga.
“Saat jembatan ini masih aktif, biasanya kami hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp. 2.000 per sak untuk ongkos angkut padi atau gabah saat musim panen. Namun sekarang, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp.8.000 per sak gabah karena harus menempuh jarak yang lebih jauh,” ujarnya.
Ia mewakili masyarakat berharap agar pemerintah maupun pihak terkait lainnya dapat segera membangun kembali jembatan tersebut demi keberlangsungan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
Sementara itu, Anggota DPRK Aceh Utara dari Fraksi PKS, Zulkifli yang dikenal dengan sapaan Jol Panton, turut meninjau langsung lokasi jembatan yang rusak. Ia mengaku sangat prihatin dengan kondisi infrastruktur tersebut, terlebih pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Utara dan merusak berbagai fasilitas publik serta memutus rantai ekonomi masyarakat dari hulu ke hilir.
Jol Panton menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan pembangunan kembali Jembatan Singgah Mata melalui jalur pemerintahan supaya ditangani dan mendapatkan perhatian serius. Selain itu, ia juga berupaya melakukan advokasi melalui relawan, pihak swasta, LSM, maupun NGO agar ikut berperan dalam pemulihan infrastruktur yang hancur akibat banjir bandang beberapa waktu lalu.
“Ini kebutuhan mendesak masyarakat. Kita akan dorong agar jembatan ini segera mendapat perhatian dan realisasi pembangunan,” tegasnya. [Aif]
