Saat Air Surut, Tugas Pemulihan Aceh Baru Dimulai


Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh perlahan mulai mereda. Air yang sebelumnya merendam permukiman warga, fasilitas umum, serta lahan pertanian kini berangsur surut. Aktivitas masyarakat pun mulai kembali berjalan, meski belum sepenuhnya pulih.

Namun, surutnya air bukanlah akhir dari persoalan. Justru pada fase inilah proses pemulihan yang sesungguhnya dimulai.

Sebagian warga telah kembali ke rumah masing-masing, sementara lainnya masih bertahan di hunian sementara. Kerusakan rumah, hilangnya harta benda, keterbatasan air bersih, serta persoalan sanitasi masih menjadi tantangan utama. Bagi masyarakat terdampak, banjir tidak hanya meninggalkan kerugian materi, tetapi juga trauma psikologis, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Di tengah kondisi tersebut, kehadiran mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah terdampak banjir menjadi angin segar dalam proses pemulihan. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelengkap program formal, tetapi juga sebagai mitra sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Melalui kegiatan edukasi, pendampingan, pembersihan lingkungan, hingga trauma healing, mahasiswa turut berkontribusi dalam memulihkan kondisi sosial warga pascabencana. Peran ini menjadi penting karena mahasiswa mampu menjembatani pendekatan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Program-program sederhana seperti pendampingan belajar anak, kampanye hidup bersih pascabanjir, serta penguatan kesadaran lingkungan terbukti memberi dampak positif. Kehadiran mahasiswa juga menghadirkan energi baru dalam membangkitkan semangat gotong royong yang sempat melemah akibat bencana.

Meski demikian, upaya pemulihan tidak dapat dibebankan hanya kepada relawan dan mahasiswa. Pemerintah tetap memegang peran utama dalam memastikan proses rehabilitasi berjalan secara berkelanjutan. Bantuan darurat harus diikuti dengan perbaikan infrastruktur, pemulihan ekonomi warga, serta kebijakan lingkungan yang lebih serius guna mencegah banjir berulang.

Banjir yang kerap terjadi di Aceh seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Faktor alam memang tidak dapat dihindari, namun kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengelolaan daerah aliran sungai turut memperbesar risiko bencana.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan mahasiswa menjadi kunci, tidak hanya dalam pemulihan, tetapi juga pencegahan jangka panjang.

Banjir Aceh memang mulai mereda, tetapi proses pemulihan masih panjang. Kehadiran mahasiswa KKN menunjukkan bahwa pemulihan bukan semata soal membangun kembali fisik yang rusak, melainkan juga memulihkan harapan dan solidaritas sosial. Dengan kolaborasi yang terus terjaga, Aceh memiliki peluang untuk bangkit lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Penulis oleh: Haikal Al Fadri Tanjung | Mahasiswa KPI USM Banda Aceh

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama