Tandaseru Berikan Psychosocial Support, Mahasiswa Psikologi Berbagai Kampus Daftar Jadi Relawan


Aceh Utara - Dibawah tenda sederhana, diatas terpal biru yang digelar apa adanya, tawa anak-anak perlahan pecah. Mereka duduk melingkar, sebagian masih canggung, sebagian lain mulai berani bercerita. Ditengah lingkaran itu, para relawan muda mendengarkan dengan sabar, menjadi telinga, bahu, dan penguat bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan diri secara emosional. Begitulah sekilas wajah kerja-kerja psychosocial support yang dihadirkan Tandaseru Indonesia.

‎Kegiatan dilakukan berkelanjutan selama 1 hingga 2 bulan di setiap lokasi bencana. Program dukungan psikososial ini digerakkan oleh relawan tandaseru community, mayoritas dari latar belakang ilmu psikologi. Mereka datang dari berbagai kampus di Indonesia, seperti USU Medan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta, Universitas Malikussaleh serta UIN sulthanah Nahrisyah Lhokseumawe. Para relawan psychosocial ini datang dengan satu tujuan: membantu anak-anak dan keluarga memulihkan rasa aman, percaya, dan harapan setelah melewati pengalaman sulit saat bencana.

‎Founder Tandaseru Indonesia, Lailan Fajri Saidina, menyebutkan bahwa pendekatan humanis adalah kunci. “Pemulihan tidak hanya soal kebutuhan fisik. Ada luka yang tak terlihat, rasa takut, kehilangan, dan kebingungan. Di situlah psychosocial support berperan, membantu mereka kembali merasa aman dan berdaya,” ujar Lailan yang juga seorang praktisi hipnoterapy, Minggu (4/1/2026).
‎Ia menambahkan, Tandaseru membuka ruang bagi mahasiswa psikologi untuk belajar sekaligus mengabdi secara nyata di lapangan dengan pendampingan dan standar etika yang ketat.
‎Antusiasme relawan datang dari berbagai kampus. Salah satunya adalah Dira Khaira, mahasiswa psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Ia mengaku terpanggil karena ingin mempraktikkan ilmu yang dipelajarinya. “Di kelas kami belajar teori, tapi di sini saya belajar empati. Melihat anak-anak mulai tersenyum lagi membuat saya yakin, kehadiran kita berarti,” katanya.
‎Motivasi serupa disampaikan Syifa Athifah, asal kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Baginya, menjadi relawan adalah panggilan nurani.
‎“Saya ingin memberikan dukungan emosional bagi penyintas di masa sulit, karna saya percaya empati yang dihadirkan secara tulus dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan mental penyintas", sebut Syifa.
‎Relawan lainnya, Salwa Salsabila dari USU Medan ingin memastikan bahwa ilmu psikologi tidak berhenti di jurnal. "Dengan bergabung sebagai relawan psikososial Tandaseru Indonesia, saya merasa bisa memberi dampak langsung, meski kecil,” ujarnya bangga.
‎Di lapangan, para relawan memfasilitasi berbagai aktivitas seperti bermain, mengaji, menggambar, bercerita, hingga latihan pernapasan dan relaksasi. Aktivitas-aktivitas ini dirancang untuk membantu anak dan remaja mengekspresikan emosi, membangun kembali rutinitas, dan menumbuhkan rasa aman.
‎Menurut Lailan, tingginya minat mahasiswa menjadi relawan psikososial, trauma healing maupun pembelajaran darurat menunjukkan tumbuhnya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental.
‎“Kami melihat semangat luar biasa. Mereka tidak hanya ingin menjadi profesional yang kompeten, tapi juga manusia yang peduli,” tuturnya.
‎Lewat gerakan ini, Tandaseru Indonesia berharap dukungan psikososial semakin dikenal sebagai bagian penting dari respons kemanusiaan. Di antara riuh tenda dan suara anak-anak dan remaja, para relawan muda itu menanamkan satu hal sederhana namun bermakna, "harapan bisa tumbuh kembali, ketika ada yang mau mendengarkan". [*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama