Dominasi Dolar AS di Ujung Tanduk: Venezuela sebagai Cermin Perubahan Geopolitik Global


"Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan analisis geopolitik dan ekonomi global"

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami semata sebagai konflik bilateral, apalagi sekadar isu narkoba, terorisme, atau demokrasi. Di balik narasi resmi tersebut, Venezuela justru tampil sebagai sebuah cermin yang memantulkan realitas yang lebih besar: dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan global sedang mengalami retakan struktural.

Selama lebih dari setengah abad, dolar AS menempati posisi istimewa dalam tatanan ekonomi dunia. Posisi ini tidak lahir secara alamiah, melainkan dibentuk melalui konstruksi geopolitik pasca-Perang Dunia II. Salah satu fondasi utamanya adalah sistem petrodolar, yang berakar pada kesepakatan Amerika Serikat dan Arab Saudi pada 1974. Kesepakatan ini memastikan bahwa perdagangan minyak global dilakukan dalam dolar AS, dengan imbalan jaminan keamanan dan perlindungan militer dari Washington.

Sistem tersebut menciptakan permintaan global yang stabil terhadap dolar. Setiap negara membutuhkan dolar untuk membeli energi, sementara Amerika Serikat memperoleh keleluasaan mencetak mata uangnya sendiri untuk membiayai defisit fiskal, belanja militer, dan ekspansi global. Dalam literatur ekonomi politik internasional, kondisi ini dikenal sebagai exorbitant privilege, sebuah keistimewaan struktural yang sulit ditandingi negara mana pun (Eichengreen, IMF).

Namun, sistem yang tampak kokoh ini tidak kebal terhadap perubahan. Data IMF menunjukkan bahwa porsi dolar AS dalam cadangan devisa global telah menurun dari sekitar 71 persen pada akhir 1990-an menjadi sekitar 58 persen dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini memang berlangsung perlahan, tetapi konsisten—menandakan terjadinya erosi struktural, bukan gejolak sesaat (IMF, COFER).

Dalam konteks inilah Venezuela menjadi relevan. Menurut OPEC dan U.S. Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar atau salah satu yang terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. Posisi ini menjadikannya aktor strategis dalam pasar energi global. Sejak 2018, di tengah tekanan sanksi ekonomi Amerika Serikat, pemerintah Venezuela secara terbuka menyatakan niat mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Perdagangan minyak mulai diarahkan ke mata uang lain seperti yuan dan euro, sementara kerja sama ekonomi dengan Tiongkok dan Rusia diperkuat. Pada saat yang sama, wacana bergabung dengan BRICS semakin menguat.

Reuters melaporkan bahwa sebagian transaksi minyak Venezuela telah diselesaikan menggunakan mata uang non-dolar, terutama dalam kerja sama dengan Tiongkok. Langkah ini pada awalnya dipahami sebagai strategi bertahan hidup menghadapi sanksi. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, kebijakan tersebut memiliki makna simbolik yang kuat: Venezuela, disengaja atau tidak, menempatkan dirinya di garis depan tantangan terhadap dominasi dolar.

Amerika Serikat menegaskan bahwa tekanan terhadap Venezuela didasarkan pada isu demokrasi, hak asasi manusia, dan dugaan keterlibatan dalam kejahatan lintas negara. Argumen ini tidak dapat sepenuhnya diabaikan, mengingat krisis politik dan ekonomi Venezuela memang nyata dan diakui oleh berbagai lembaga internasional, termasuk Bank Dunia.

Namun, persoalan muncul ketika standar normatif tersebut diterapkan secara selektif. Amerika Serikat tetap menjalin hubungan strategis dengan sejumlah negara yang memiliki catatan demokrasi dan HAM yang problematik, selama kepentingan geopolitik dan ekonominya tidak terganggu. Fakta ini mendorong banyak pengamat menilai bahwa nilai-nilai normatif dalam politik internasional kerap berjalan beriringan dengan, dan tunduk pada, kepentingan struktural yang lebih besar.

Sejarah memberikan konteks yang memperkuat analisis ini. Irak pada awal 2000-an dan Libya pada akhir dekade yang sama pernah mengemukakan gagasan perdagangan energi di luar dolar AS. Kedua negara tersebut kemudian mengalami intervensi militer dan perubahan rezim. Setiap kasus tentu memiliki dinamika dan kompleksitas tersendiri, namun pola hubungan antara mata uang, energi, dan kekuasaan global sulit untuk diabaikan.

Penting untuk ditegaskan bahwa dominasi dolar tidak hanya bertumpu pada petrodolar. Stabilitas sistem hukum Amerika, kedalaman pasar keuangan, serta tingkat kepercayaan institusional global tetap menjadi pilar utama. Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa dolar masih terlibat dalam sekitar 88 persen transaksi valuta asing global. Dengan demikian, runtuhnya dolar secara tiba-tiba hampir tidak mungkin terjadi.

Namun, yang sedang berlangsung bukanlah keruntuhan mendadak, melainkan erosi perlahan. Rusia dan Tiongkok semakin intens menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Sistem pembayaran alternatif seperti Cross Border Interbank Payment System (CIPS) dikembangkan oleh Tiongkok, sementara proyek mBridge yang didukung BIS membuka jalan bagi penyelesaian transaksi lintas negara tanpa bergantung pada dolar atau sistem SWIFT. Negara-negara BRICS secara terbuka mendiskusikan mekanisme perdagangan non-dolar sebagai bagian dari upaya diversifikasi risiko sistemik.

Dalam konteks ini, Venezuela berfungsi sebagai cermin. Reaksi keras terhadap langkah-langkah ekonominya tidak hanya mencerminkan persoalan internal negara tersebut, tetapi juga kegelisahan sistem global yang selama ini bertumpu pada satu mata uang dominan. Upaya mempertahankan status quo melalui tekanan politik dan ekonomi justru berpotensi mempercepat pencarian alternatif oleh negara-negara lain.

Sejarah menunjukkan bahwa hegemoni jarang runtuh oleh satu peristiwa tunggal. Ia melemah ketika realitas global berubah lebih cepat daripada kemampuan sistem tersebut untuk beradaptasi. Dunia saat ini semakin multipolar, dengan pusat-pusat kekuatan ekonomi yang tersebar dan kepentingan yang saling berkelindan.

Venezuela, dalam hal ini, bukan penyebab utama perubahan global. Ia adalah refleksi sebuah cermin yang memperlihatkan retakan pada dominasi dolar yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Pertanyaannya kini bukan apakah dolar akan kehilangan perannya, melainkan apakah ia mampu berbagi ruang dalam tatanan global yang lebih seimbang dan inklusif.

Jika tidak, tekanan demi tekanan yang terlihat hari ini justru akan dikenang sebagai penanda bahwa dunia telah memasuki babak baru babak di mana dominasi tunggal perlahan digantikan oleh kompromi multipolar.

Penulis Oleh : Endang Kusmadi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama