Opini - Tanggal 17 Mei selalu menghadirkan ruang sunyi dalam ingatan masyarakat Aceh. Di hari itu, tahun 2003, tragedi kemanusiaan di Jambo Keupok menjadi salah satu lembar kelam yang meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Aceh. Peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat bahwa konflik selalu menyisakan duka yang panjang bagi masyarakat sipil.
Anak kehilangan ayahnya, ibu kehilangan anaknya, dan banyak keluarga kehilangan tempat pulang yang utuh. Tangisan yang pernah pecah di tanah Jambo Keupok menjadi saksi bahwa kekerasan tidak pernah benar-benar menghadirkan kemenangan. Ia hanya meninggalkan kehilangan, trauma, dan kenangan yang sulit dipadamkan oleh waktu.
Namun mengenang tragedi bukan berarti menumbuhkan kebencian baru. Sejarah yang pahit harus dijadikan pelajaran bersama agar generasi hari ini tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Aceh telah melalui perjalanan panjang dari konflik menuju damai. Karena itu, tugas generasi muda hari ini bukan memperbesar luka, melainkan merawat perdamaian yang telah diperjuangkan dengan begitu mahal.
Sebagai masyarakat Aceh, kita harus belajar bahwa perdamaian tidak lahir hanya dari perjanjian politik, tetapi juga dari kesediaan untuk saling memahami, menghormati kemanusiaan, dan menjaga martabat sesama. Luka sejarah harus diingat dengan hati yang teduh, bukan dengan amarah yang diwariskan.
Dayah-dayah di Aceh selama ini mengajarkan nilai kasih sayang, persaudaraan, dan kemuliaan akhlak. Nilai itulah yang seharusnya menjadi fondasi dalam membangun masa depan Aceh. Kita tidak ingin anak-anak muda Aceh tumbuh dengan dendam, melainkan dengan semangat ilmu, persatuan, dan pengabdian untuk daerahnya.
Mengenang Jambo Keupok juga berarti menghormati para korban dengan cara terbaik: menjaga agar tanah Aceh tidak lagi dipenuhi air mata akibat konflik dan kekerasan. Damai harus dirawat melalui pendidikan, keadilan sosial, dan ruang dialog yang sehat antar sesama anak bangsa.
Aceh hari ini membutuhkan generasi yang mampu menjahit kembali ingatan sejarah menjadi energi persatuan. Sebab daerah ini tidak akan maju apabila masyarakatnya terus hidup dalam bayang-bayang perpecahan. Masa depan Aceh harus dibangun dengan kebijaksanaan, bukan kebencian.
Semoga tragedi Jambo Keupok menjadi pelajaran kemanusiaan bagi semua pihak, dan semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Sementara bagi kita yang hidup hari ini, semoga diberi kekuatan untuk terus menjaga Aceh sebagai tanah damai, tanah ilmu, dan tanah yang memuliakan kemanusiaan.
Penulis oleh Tgk. Muhammad Afif Irvandi El Tahiry, S.H |Founder Mahasiswa Peduli Dayah
