Muhammad Fathir Raih Juara Umum LPQ Al Alif Malikussaleh, Geser Dominasi Lima Kali Berturut-turut

Aceh Utara – Setelah menyelesaikan Ujian Semester Genap atau Ujian Kenaikan Kelas Tahun Ajaran 2025/2026 (1447 Hijriah) selama dua pekan, LPQ Al Alif Malikussaleh mengumumkan para santri berprestasi. Muhammad Fathir, santri kelas Tahjizi asal Desa Ie Tarek I, berhasil meraih gelar Juara Umum dengan nilai rata-rata tertinggi.

Pengumuman tersebut disampaikan pada Senin (15/6/2026) di lingkungan LPQ Al Alif Malikussaleh, Gampong Lhok Jok, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara.

Keberhasilan Muhammad Fathir menjadi sorotan karena mampu memutus dominasi Khaidir Muda, santri kelas II yang sebelumnya menyabet gelar Juara Umum sebanyak lima kali berturut-turut sejak tahun 2024.

Pimpinan LPQ Al Alif Malikussaleh, Tgk. Zulkifli, S.Pd.I., M.Pd. atau yang akrab disapa Tgk. Joel Buloh, menjelaskan bahwa predikat Juara Umum diberikan kepada santri yang memperoleh nilai rata-rata tertinggi dari seluruh peserta ujian.

"Juara umum merupakan bentuk apresiasi atas kesungguhan santri dalam belajar dan menunjukkan hasil terbaik selama mengikuti proses pendidikan," ujarnya.

Ujian semester kali ini diikuti oleh sebanyak 97 santri yang terdiri atas kelas Tahjizi, kelas I, dan kelas II.

Berikut daftar santri peraih peringkat terbaik:

Kelas II

Ranking 1: Khaidir Muda (Ie Tarek I)

Ranking 2: Risla Ulfa Sari (Lhok Jok)

Ranking 3: Rahmatillah (Ie Tarek II)

Kelas I

Ranking 1: Saka Ahmat Rafi (Keude Simpang IV)

Ranking 2: Afra (Lhok Jok)

Ranking 3: Muhammad Naldy Alfaraqi (Cempeudak)

Kelas Tahjizi

Ranking 1: Muhammad Fathir (Ie Tarek I) sekaligus Juara Umum

Ranking 2: Zaujatul Amna (Cempeudak)

Ranking 3: Nala Asyrafa (Blang Riek)

Dalam sambutannya, Tgk. Joel Buloh berpesan agar para santri terus menjaga kedisiplinan, tanggung jawab, dan adab kepada guru sebagai kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu.

"Sebagai seorang santri wajib disiplin dan bertanggung jawab, karena disiplin adalah modal kesuksesan. Tanggung jawab akan menempatkan santri pada jati dirinya sehingga memahami kewajibannya. Akhlakul karimah dan menghormati guru merupakan sumber keberkahan ilmu," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tujuan belajar ilmu agama bukan sekadar mengejar nilai rapor atau gelar juara, melainkan memahami serta mengamalkan ilmu yang dipelajari.

"Belajar ilmu agama bukan hanya untuk mendapatkan rapor atau juara, tetapi sejauh mana kita mampu memahami kitab-kitab dan mengamalkannya. Rajinlah 'jak beut' dan jangan sering absen, karena satu malam tidak hadir bisa membuat kita tertinggal materi penting," pesannya.

LPQ Al Alif Malikussaleh sendiri merupakan lembaga pendidikan agama berbasis kurikulum dayah yang telah berdiri selama tiga tahun. Meski tergolong masih muda, lembaga ini terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi Qurani yang berilmu, berakhlak, dan berprestasi.[wir]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama