Dari Ruang Kelas ke Lahan Sawit: Mahasiswa Agroekoteknologi Unimal Asah Kompetensi Lewat Pengendalian Gulma Kimia



Simalungun - Di hamparan kebun kelapa sawit PTPN IV Regional II Marjandi, Sumatera Utara, delapan mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi Universitas Malikussaleh (Unimal) menimba pengalaman lapangan melalui program Praktek Kerja Lapangan (PKL). Bagi mereka, inilah ruang belajar sesungguhnya—tempat teori bertemu praktik, dan disiplin ilmu diuji oleh realitas.

Selama menjalani PKL, mahasiswa tidak hanya bergulat dengan rutinitas lapangan, tetapi juga mempelajari proses analisis data tanaman yang menjadi standar operasional perusahaan perkebunan. Mereka adalah Mhd Farhan Lubis, Daffa Fauzi Adithia, Zayyan Nashwa, Lailatul Khairani, Fadhlan Haiba, Ella Hidayanti, Muthia Ayunda Hasibuan, dan Anas Taqi Daffa.

Pada Jumat (30/1/2026), para mahasiswa mempraktikkan teknik pengendalian gulma secara kimiawi (chemical weeding). Fokus diarahkan pada chemis piringan guna menjaga kebersihan area jatuhnya buah sekaligus memaksimalkan penyerapan pupuk, serta chemis anak kayuan untuk mengendalikan tanaman berkayu yang berpotensi menghambat pertumbuhan sawit.

Di bawah pendampingan langsung tenaga teknis PTPN IV, kegiatan ini dilaksanakan dengan mematuhi standar operasional prosedur (SOP) serta prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Ketelitian dalam menakar dosis herbisida, kecermatan memilih metode aplikasi, hingga kehati-hatian dalam bekerja menjadi bagian dari pembelajaran yang tak ternilai.

Bagi Daffa Fauzi Adithia, praktik lapangan tersebut membuka cakrawala baru. Ia mengaku mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai pengendalian gulma yang selama ini hanya dipelajari melalui buku dan ruang kuliah.

“Di lapangan, kami belajar bahwa setiap keputusan teknis harus berbasis kondisi riil. Mulai dari jenis herbisida, dosis, hingga cara aplikasi, semuanya menuntut ketepatan dan tanggung jawab,” ujarnya.

Lebih dari sekadar keterampilan teknis, PKL juga menanamkan kedisiplinan dan etos kerja. Menurut Daffa, suasana kerja di perkebunan melatih mahasiswa untuk terbiasa dengan ritme kerja yang teratur, sistematis, dan profesional.

Para dosen pembimbing PKL—Rosnina, S.P., M.P., Yusuf, S.P., M.P., dan Muaz, S.P., M.P.—menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembentukan kompetensi lulusan. Rosnina menilai PKL sebagai sarana efektif untuk mengintegrasikan teori akademik dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghayati praktiknya. Di sinilah proses pembelajaran menjadi utuh dan bermakna,” tuturnya.

Sementara itu, Yusuf menekankan pentingnya pengalaman lapangan bagi mahasiswa pertanian agar memiliki bekal keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Senada, Muaz berharap PKL mampu membentuk karakter profesional, tangguh, serta adaptif dalam menghadapi dinamika dunia kerja.

Di tengah hamparan sawit yang membentang luas, para mahasiswa ini sedang menanam bekal masa depan—menyiapkan diri menjadi insan pertanian yang terampil, berdaya saing, dan siap berkontribusi bagi pembangunan sektor perkebunan nasional.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama