Lhokseumawe — Kelompok 69 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh melalui Divisi Pendidikan menggelar kegiatan edukasi pemanfaatan limbah sayur menjadi pupuk organik cair (POC) pada Rabu (28/1/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan literasi ekologi sejak dini kepada siswa Sekolah Dasar (SD).
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Divisi Pendidikan Muhammad Yasin memberikan pemaparan materi sekaligus praktik langsung tentang cara mengolah limbah sayur yang selama ini dianggap sebagai sampah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertanian dan lingkungan.
Limbah sayur dimanfaatkan sebagai sumber mikroba atau nutrisi bagi mikroorganisme, sementara EM4 digunakan sebagai bakteri pengurai dan gula atau molase sebagai sumber energi dalam proses fermentasi. Dari proses tersebut dihasilkan pupuk organik cair yang mengandung unsur hara penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, yang berperan penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman.
Sasaran utama kegiatan ini adalah siswa Sekolah Dasar. Pemilihan sasaran tersebut didasarkan pada pentingnya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini. Melalui edukasi ini, para siswa diajak memahami bahwa limbah, khususnya limbah sayur, tidak selalu berakhir sebagai sampah, melainkan dapat diolah menjadi produk yang bernilai guna dan ramah lingkungan.
Selain memberikan edukasi praktik, kegiatan ini juga menjadi sarana literasi lingkungan agar anak-anak terbiasa berpikir kreatif, peduli terhadap kebersihan, serta mampu menerapkan pengetahuan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok 69 KKN Universitas Malikussaleh Gampong Asan Kareung Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dan mendorong kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih bijak dan berkelanjutan di lingkungan masyarakat.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari pihak SDN 03 Blang Mangat. Kepala sekolah, Julia, S.Pd, menyebut edukasi pemanfaatan limbah sayur ini sangat penting diajarkan sejak dini agar menjadi pembelajaran bermakna bagi siswa.
“Edukasi ini sangat penting ditanamkan sejak dini, sehingga siswa-siswi terbiasa memanfaatkan bahan sisa yang sebelumnya tidak digunakan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.[*]
