Inovasi Hijau KKN 24 Unimal: Pestisida Alami dan Alat Penebar Pupuk Sederhana untuk Petani Pinto Makmur

 


Aceh Utara — Semangat pengabdian dan inovasi mahasiswa kembali memberi warna bagi pengembangan pertanian di pedesaan. Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke-24 Universitas Malikussaleh (Unimal) yang bertugas di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, menghadirkan solusi pertanian ramah lingkungan melalui sosialisasi pembuatan pestisida alami dan pelatihan pembuatan alat penebar pupuk sederhana.

Program tersebut dilaksanakan pada Jumat (31/1/2026) dan disambut antusias oleh para petani setempat. Kegiatan ini berangkat dari hasil observasi mahasiswa terhadap kondisi pertanian desa yang masih bergantung pada pupuk dan pestisida kimia berbiaya tinggi serta berpotensi merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang.

“Kami ingin memperkenalkan alternatif yang lebih aman, murah, dan bisa dibuat sendiri dari bahan-bahan di sekitar. Harapannya, petani tidak lagi bergantung penuh pada bahan kimia dan kesuburan tanah tetap terjaga,” ujar Firman Alamsyah, Ketua Kelompok KKN 24 Unimal.

Sosialisasi pembuatan pestisida alami menjadi agenda pertama. Dalam sesi tersebut, mahasiswa mempraktikkan langsung cara mengolah bahan sederhana seperti kulit bawang menjadi larutan pestisida alami yang efektif mengusir hama. Para petani tampak serius mengikuti setiap tahapan, mulai dari pencampuran bahan, proses fermentasi, hingga penyaringan.

Salah seorang petani sayur setempat, Masrizal, mengaku tertarik menerapkan metode tersebut. “Selama ini pestisida kimia cukup memberatkan. Kalau ini bisa dibuat sendiri, tentu sangat membantu dan lebih aman untuk tanah serta tanaman,” ujarnya.

Inovasi berikutnya adalah pembuatan alat penebar pupuk sederhana berbahan paralon dan kaleng bekas. Alat ini dirancang untuk membantu petani menebar pupuk padat seperti pupuk kandang atau kompos secara lebih merata dan efisien, sekaligus mengurangi kelelahan saat bekerja di lahan.

“Konsepnya low cost, high impact. Bahannya mudah didapat dan cara membuatnya sederhana. Dengan alat ini, penebaran pupuk bisa lebih cepat dan hasilnya lebih optimal,” jelas Zaky, mahasiswa yang terlibat dalam perancangan alat tersebut.

Tak berhenti pada pelatihan, mahasiswa KKN 24 Unimal juga melakukan pendampingan langsung di kebun percontohan. Selain itu, alat dan hasil praktik yang telah dibuat diserahkan kepada masyarakat agar dapat terus digunakan dan dikembangkan meskipun masa KKN telah berakhir.

Tengku Imum Desa Pinto Makmur, Tengku Masrizal, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa. Ia menilai program tersebut membawa manfaat nyata bagi masyarakat. “Mereka membawa ilmu yang aplikatif dan ramah lingkungan. Kami berharap inovasi ini menjadi kebiasaan baru bagi petani menuju pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.

Melalui inovasi sederhana berbasis kebutuhan lokal, KKN 24 Unimal membuktikan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus berskala besar. Langkah kecil yang berorientasi pada keberlanjutan ini diharapkan mampu menjadi pemantik tumbuhnya pertanian mandiri dan ramah lingkungan di Aceh Utara.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama