Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya sinkronisasi antara komitmen global, nasional, dan daerah dalam menghadapi fenomena global boiling serta mencapai target nasional emisi nol bersih (net zero emission/NZE).
Mengutip laporan ANTARA, Bima menyebut tantangan utama saat ini adalah menyambungkan berbagai komitmen tersebut agar berjalan selaras. “Tantangan kita itu sebetulnya apa yang ditulis di report ini, yaitu menyambungkan antara komitmen global, nasional, dan lokal. That is our major challenge,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, dinamika politik di daerah juga menjadi tantangan tersendiri. Kepala daerah kerap dihadapkan pada dilema antara mengejar pertumbuhan ekonomi dan popularitas, dengan kewajiban memenuhi target lingkungan yang bersifat teknis dan berjangka panjang.
Selain itu, Bima menyoroti hambatan nyata di lapangan, seperti sulitnya peralihan transportasi publik ke kendaraan listrik serta ketergantungan ekonomi di sejumlah daerah pada sektor industri yang masih menghasilkan emisi tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Dalam Negeri berperan memastikan perencanaan dan penganggaran daerah tetap selaras dengan kebijakan nasional dan komitmen global. Ia menyebut pihaknya telah menerbitkan berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, termasuk Permendagri Nomor 15 Tahun 2024 sebagai dasar bagi kepala daerah dalam mendorong investasi hijau.
Bima juga menegaskan bahwa komitmen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak boleh hanya bersifat formalitas. Ia mendorong penerapan konsep co-creation dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk generasi muda, dalam merumuskan strategi dan memperkuat pengawasan anggaran.
Ia berharap inovasi berbasis ekologi yang telah dilakukan sejumlah daerah dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain, sehingga semakin banyak pemimpin daerah yang berperan aktif dalam mendukung pencapaian target emisi nol bersih nasional pada 2060.[*]
