Pendahuluan
Kita hidup di zaman ketika orang semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit menjaga kata-kata.
Setiap orang merasa memiliki hak untuk berpendapat. Semua ingin didengar, bahkan ingin dianggap paling benar. Namun di tengah kebebasan itu, ada satu hal yang sering terlupakan: cara kita berbicara dan memperlakukan orang lain.
Di sinilah letak persoalan sebenarnya.
Bukan karena kita tidak tahu mana yang benar, tetapi karena kita sering abai dalam menyampaikan kebenaran.
Perbedaan Bukan Masalah, Cara Kita yang Menjadi Masalah
Perbedaan pendapat bukan hal baru. Sejak dahulu, manusia hidup dalam keberagaman pandangan. Namun, perbedaan akan berubah menjadi masalah ketika tidak disertai dengan adab.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Pesan ini sederhana, tetapi sangat mendalam: jangan merasa lebih baik dari orang lain.
Kita tidak pernah tahu siapa yang lebih mulia di hadapan Allah. Apa yang tampak di mata manusia, belum tentu sama nilainya di sisi-Nya. Ketika seseorang merasa paling benar, di situlah penghormatan mulai hilang.
Lisan yang Tidak Dijaga, Hubungan yang Rusak
Banyak konflik besar dalam kehidupan sosial justru berawal dari hal kecil: ucapan.
Satu kalimat yang tidak tepat bisa melukai.
Satu komentar yang kasar bisa merusak hubungan yang telah lama terbangun.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik…”
(QS. Al-Isra: 53)
Perintah ini bukan sekadar agar tidak berkata kasar, tetapi agar memilih perkataan terbaik.
Artinya:
tidak menyakiti
tidak merendahkan
tidak memancing konflik
Ucapan yang baik bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral.
Menghormati adalah Bagian dari Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa penghormatan bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari identitas seorang Muslim.
Menghormati yang lebih tua berarti menjaga sikap dan menghargai pengalaman mereka.
Menyayangi yang lebih muda berarti membimbing dengan kelembutan, bukan merendahkan.
Jika nilai ini hilang, maka hubungan antar manusia akan mudah retak.
Tidak Semua Hal Harus Diucapkan
Di era sekarang, banyak orang merasa semua hal harus dikomentari. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang sangat jelas:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kadang, diam justru lebih bijak daripada berbicara tanpa pertimbangan.
Diam bukan berarti tidak tahu, tetapi tanda bahwa seseorang mampu mengendalikan dirinya.
Realitas Hari Ini
Tanpa disadari, kita mulai terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya tidak dianggap wajar:
berbicara kasar dianggap biasa
merendahkan orang lain dianggap lumrah
menghina dianggap sebagai bentuk keberanian
Akibatnya, kita menjadi:
mudah marah
cepat tersinggung
sulit menghargai
Lingkungan sosial pun perlahan menjadi keras, hanya karena kita lalai menjaga adab.
Dampak yang Perlahan Terasa
Krisis adab tidak selalu tampak secara langsung, tetapi dampaknya nyata:
hubungan sosial menjadi renggang
kepercayaan antar sesama melemah suasana mudah memanas
Semua ini bukan karena persoalan besar, melainkan karena hal-hal kecil yang terus diabaikan: cara kita memperlakukan orang lain.
Penutup
Pada akhirnya, adab bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara, tetapi tentang bagaimana kita memandang sesama manusia.
Adab lahir dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki harga diri, memiliki luka, dan ingin dihargai. Ketika kita menjaga adab, kita tidak hanya menjaga hubungan, tetapi juga menjaga hati—baik hati orang lain maupun hati kita sendiri.
Kita mungkin tidak selalu benar.
Kita juga tidak selalu lebih baik.
Namun kita selalu punya pilihan:
berbicara dengan cara yang melukai, atau dengan cara yang menguatkan.
Dunia hari ini sudah cukup keras.
Jangan sampai kita ikut menambah kerasnya dengan kata-kata yang tidak perlu.
Karena sering kali, yang diingat orang bukan apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita membuat mereka merasa.
Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai.
Jika ingin didengar, belajarlah mendengar.
Dan jika ingin hidup dalam masyarakat yang lebih baik, maka perubahan itu harus dimulai dari hal paling sederhana:
cara kita memperlakukan sesama manusia.[*]
Penulis oleh: Tgk Muhammad Afif Irvandi El Tahiry | Founder Mahasiswa Peduli Dayah
