Dampak Banjir Hidrometeorologi 2025, Anak Sekolah di Aceh Utara Terpaksa Seberangi Sungai Pakai Ban

Aceh Utara - Dampak bencana banjir hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh pada 26 November 2025 lalu masih dirasakan hingga kini. Di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, puluhan anak sekolah terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat hingga ban bekas demi bisa bersekolah.

Kondisi memprihatinkan ini terjadi di jalur penyeberangan antara Desa Sawang dan Desa Lhok Cut, tepatnya di kawasan bawah Dayah Al-Anhar Sawang. Hingga Sabtu (11/4/2026), aktivitas berbahaya tersebut masih berlangsung tanpa adanya fasilitas penyeberangan yang layak.

Banjir hidrometeorologi yang melanda kawasan Aceh Utara pada November 2025 diketahui turut berdampak pada infrastruktur di wilayah sekitar, termasuk akses penghubung warga di Kecamatan Sawang. Sejumlah fasilitas rusak dan belum sepenuhnya dipulihkan, memaksa masyarakat bertahan dengan kondisi seadanya.

Anggota DPRK Aceh Utara, Abuzar, ST, menegaskan bahwa situasi ini sangat mendesak untuk segera ditangani pemerintah. Ia menyebut keselamatan anak-anak kini berada dalam ancaman serius setiap hari.

“Ini sangat urgen. Bahkan beberapa hari lalu ada anak sekolah yang terjatuh ke sungai saat menyeberang. Kondisi pascabanjir membuat arus sungai masih tidak stabil dan sangat berbahaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterbatasan sarana membuat sebagian orang tua terpaksa mengantar anak mereka menggunakan rakit sederhana, bahkan hanya memanfaatkan ban bekas sebagai alat bantu apung. Tanpa rompi atau pelampung, keselamatan anak-anak sepenuhnya bergantung pada kondisi air dan cuaca.

Tak hanya siswa dari Desa Sawang yang bersekolah di Lhok Cut, sejumlah pelajar dari Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut juga harus menyeberang ke Sawang setiap hari. Bahkan, anak-anak usia taman kanak-kanak turut menghadapi risiko serupa.

Warga pun mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama pembangunan jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang. Selain itu, kebutuhan mendesak seperti penyediaan rompi dan pelampung keselamatan dinilai sangat penting untuk mencegah jatuhnya korban.

“Ini bukan sekadar persoalan akses pendidikan, tetapi menyangkut keselamatan nyawa anak-anak. Kami berharap ada perhatian serius dan tindakan cepat dari pemerintah,” tegas Abuzar.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata dampak berkepanjangan bencana hidrometeorologi terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, situasi ini juga menjadi peringatan bahwa percepatan pemulihan pascabencana harus menjadi prioritas, terutama yang menyangkut keselamatan generasi muda.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama