Jakarta – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tancap gas mendorong percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Langkah ini disebut sebagai upaya strategis pemerintah untuk menutup kesenjangan gizi sekaligus menekan angka stunting yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Dalam arahannya, Gibran menegaskan bahwa daerah 3T harus menjadi prioritas utama karena masih menghadapi keterbatasan akses pangan, infrastruktur, serta fasilitas pendukung program gizi.
“Program Makan Bergizi Gratis harus dipercepat, terutama di wilayah 3T. Kita ingin memastikan anak-anak di daerah terpencil juga mendapatkan hak yang sama,” tegas Gibran.
Sasar Kelompok Rentan: Dari Anak Sekolah hingga Ibu Hamil
Program MBG dirancang menyasar kelompok paling rentan, yakni:
- Anak sekolah
- Ibu hamil
- Balita
Intervensi gizi sejak dini dinilai menjadi kunci dalam menciptakan generasi sehat, cerdas, dan produktif sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Realita di Lapangan: Distribusi Belum Menyentuh Semua Wilayah
Meski sudah mulai berjalan di sejumlah daerah, implementasi MBG di wilayah 3T masih menghadapi tantangan besar. Salah satu kendala utama adalah minimnya fasilitas dapur umum atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Akibatnya, distribusi makanan bergizi belum sepenuhnya menjangkau desa-desa terpencil yang justru paling membutuhkan.
“Kita butuh percepatan pembangunan dapur SPPG agar distribusi makanan bisa merata hingga ke desa-desa,” lanjutnya.
Strategi Percepatan: Bangun Dapur, Perluas Jangkauan
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah menyiapkan langkah konkret:
- Menambah pembangunan dapur SPPG di wilayah prioritas
- Memperluas distribusi hingga ke pelosok desa
- Meningkatkan intensitas penyaluran makanan di daerah rawan stunting
Program ini juga difokuskan pada wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi, kawasan kepulauan, serta daerah perbatasan yang selama ini sulit dijangkau.
Target Besar: Tekan Stunting, Bangun SDM Unggul
Percepatan MBG menjadi bagian dari strategi nasional dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal dalam pemenuhan gizi,” menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam kebijakan ini.
Dengan langkah percepatan ini, pemerintah berharap program MBG tidak hanya berjalan lebih cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berdampak nyata—terutama bagi masyarakat di wilayah 3T yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.[*]
