Enam puluh enam tahun perjalanan organisasi, ini bukan sekadar angka yang berdiri sendiri tapi ini adalah rangkaian sejarah panjang tentang kegelisahan, pencarian, dan pengabdian. Dari ruang-ruang diskusi sederhana hingga medan pengabdian di tengah masyarakat, organisasi ini terus diuji: apakah ia tetap setia pada nilai, atau justru larut dalam arus zaman yang serba instan.
Dalam momentum Harlah ke-66, refleksi tidak cukup berhenti pada seremoni. Ia harus menyentuh akar—tentang bagaimana zikir, fikir, dan amal shaleh yang benar-benar dihidupkan, bukan sekadar diucapkan.
Zikir: Menjaga Hati di Tengah Riuh Kepentingan
Zikir adalah fondasi yang sering kali dilupakan ketika organisasi mulai sibuk dengan agenda, posisi, dan dinamika internal. Padahal, tanpa zikir, gerakan akan kehilangan arah. Ia bisa berjalan cepat, tetapi tidak tahu menuju ke mana.
Zikir menjadikan gerakan tetap teduh. Ia tidak mudah terprovokasi, tidak mudah kehilangan kendali, dan tidak mudah menggadaikan nilai.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, zikir dalam organisasi harus dimaknai sebagai fondasi integritas. Ia menegaskan bahwa kader tidak boleh kehilangan arah hanya karena kepentingan jangka pendek. “Zikir adalah kekuatan batin yang menjaga kita tetap lurus, bahkan ketika tidak ada yang melihat,” menjadi penegasan bahwa gerakan harus berangkat dari kesadaran spiritual, bukan sekadar ambisi struktural.
Sementara itu, Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry memandang zikir sebagai proses penyadaran diri kader. Baginya, organisasi akan kuat jika setiap kader memiliki kedalaman batin. “Tanpa zikir, kader mudah lelah dan kehilangan makna perjuangan,” ujarnya, menekankan pentingnya spiritualitas sebagai sumber ketahanan gerakan.
Fikir: Ketajaman Membaca Realitas
Namun keteduhan saja tidak cukup. Dunia terus bergerak, dan realitas semakin kompleks. Di sinilah fikir mengambil peran. Fikir adalah kemampuan membaca zaman, memahami persoalan, dan merumuskan jalan keluar.
Organisasi kader harus menjadi ruang yang merawat nalar kritis. Diskusi tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus mampu menyentuh persoalan konkret: kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, hingga krisis moral yang perlahan menggerus masyarakat.
Fikir yang hidup akan melahirkan keberanian—bukan sekadar untuk mengkritik, tetapi juga untuk menawarkan jalan.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, fikir harus diarahkan pada keberanian intelektual yang solutif. Ia menekankan bahwa kader tidak cukup hanya kritis, tetapi juga harus mampu menawarkan gagasan yang dapat dijalankan. “Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi kebisingan,” ujarnya, mengingatkan pentingnya tanggung jawab dalam berpikir.
Di sisi lain, Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry melihat fikir sebagai hasil dari proses kaderisasi yang serius. Ia menegaskan bahwa tradisi diskusi harus melahirkan kader yang matang secara analisis. “Fikir bukan sekadar retorika, tetapi kemampuan membaca realitas dan menentukan sikap,” ungkapnya.
Amal Shaleh: Membumikan Nilai dalam Kehidupan
Zikir menjaga hati, fikir menajamkan akal, tetapi amal shaleh yang membuktikan semuanya. Amal shaleh adalah titik temu antara nilai dan realitas. Ia menjadikan organisasi tidak hanya berbicara, tetapi bekerja.
Hari ini, amal shaleh bisa hadir dalam berbagai bentuk: pengabdian kepada masyarakat, advokasi terhadap yang tertindas, hingga keterlibatan aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial. Organisasi kader harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat yang sibuk berkomentar.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, amal shaleh adalah ladang kosong yang diisi dengan kerjaan(amalan) dari ilmu pengetahuan dan yang paling penting dari keberadaan organisasi. Ia menegaskan bahwa gerakan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Jika kehadiran kita tidak memberi dampak, maka kita harus bertanya ulang tentang arah yang kita lakukan,” ujarnya.
Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry menambahkan bahwa amal shaleh adalah puncak dari proses kaderisasi. Baginya, kader yang baik adalah kader yang mampu menghadirkan perubahan nyata. “Amal shaleh adalah bukti bahwa nilai yang kita pelajari benar-benar hidup,” tegasnya.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tantangan Zaman
Tantangan terbesar hari ini adalah menjaga keseimbangan. Banyak yang kuat dalam wacana, tetapi lemah dalam tindakan. Ada pula yang aktif bergerak, tetapi kehilangan kedalaman nilai.
Padahal, kekuatan sejati terletak pada keseimbangan antara zikir, fikir, dan amal shaleh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu hilang, maka gerakan akan pincang.
Dalam konteks hari ini, keseimbangan ini menjadi semakin penting. Masyarakat membutuhkan kehadiran generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana. Yang tidak hanya berani bersuara, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, keseimbangan ini hanya bisa dijaga melalui komitmen bersama dalam kaderisasi. Ia menegaskan bahwa organisasi harus tetap menjadi ruang pembinaan, bukan sekadar arena kepentingan.
Sementara itu, Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry memandang bahwa keseimbangan adalah hasil dari proses yang panjang. “Kader tidak dilahirkan secara instan. Ia ditempa melalui proses yang konsisten,” ujarnya, menekankan pentingnya kesabaran dalam membangun kualitas kader.
Refleksi Harlah: Kembali pada Nilai, Bukan Sekadar Nama
Harlah ke-66 harus menjadi ruang muhasabah. Apakah organisasi ini masih menjadi ruang pembentukan karakter? Ataukah mulai berubah menjadi ruang perebutan kepentingan?
Sebuah organisasi akan besar bukan karena namanya, tetapi karena nilai yang dihidupkan oleh kader-kadernya. Ketika zikir ditinggalkan, fikir dilemahkan, dan amal shaleh diabaikan, maka yang tersisa hanyalah struktur tanpa ruh.
Sebaliknya, ketika ketiganya dijaga, organisasi akan tetap hidup, bahkan di tengah keterbatasan.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, momentum ini harus menjadi titik balik untuk memperkuat arah gerakan. Ia menegaskan pentingnya kembali pada nilai dasar organisasi.
Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry menambahkan bahwa refleksi harus diikuti dengan tindakan. “Evaluasi tanpa perubahan hanya akan menjadi rutinitas,” ujarnya.
Penutup: Menjadi Teduh yang Menggerakkan
Perjalanan panjang ini harus terus dilanjutkan dengan kesadaran baru: bahwa gerakan tidak harus selalu keras untuk menjadi kuat. Ia bisa tajam dalam sikap, tetapi tetap sejuk dalam pendekatan.
Di tengah dunia yang penuh kegaduhan, organisasi kader ini harus menjadi ruang ketenangan yang melahirkan gerakan. Bukan sekadar bereaksi, tetapi memberi arah.
Menurut Sahabat Muhammad Ikram, masa depan organisasi ini terletak pada kemampuannya menjaga nilai di tengah perubahan zaman.
Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry menegaskan bahwa harapan itu ada pada kader. “Selama kader tetap menjaga zikir, fikir, dan amal shaleh, maka gerakan ini akan tetap hidup dan memberi makna,” tutupnya.
Selamat Harlah ke-66.
Mari meneguhkan kembali zikir sebagai kekuatan batin, fikir sebagai cahaya akal, dan amal shaleh sebagai bukti keberpihakan.
Sebab dari sanalah lahir gerakan yang tidak hanya hidup, tetapi menghidupkan.
Oleh:
Sahabat Muhammad Ikram (Ketua Umum PMII Komisariat UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry (Ketua Bidang Kaderisasi)
