Aceh Utara - Peran perempuan sebagai kepala keluarga di wilayah Sumatra kian nyata di tengah tekanan ekonomi dan perubahan sosial. Tidak sedikit perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarga, sekaligus membuktikan bahwa peran ibu tidak lagi terbatas pada urusan domestik.
Fenomena ini mendorong pentingnya program pemberdayaan perempuan yang berjalan seiring dengan upaya pengentasan kemiskinan. Di berbagai daerah, perempuan kepala keluarga mulai bangkit melalui pelatihan dan pendampingan ekonomi yang berkelanjutan.
Salah satunya adalah Nurhasanah, seorang petani kakao di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Setiap hari, ia bekerja dari pagi hingga petang menyusuri jalan setapak menuju kebun demi menghidupi keluarganya.
“Beberapa tahun lalu, kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan kualitasnya kurang baik,” ujar Nurhasanah saat berbincang.
Nurhasanah merupakan bagian dari 19 perempuan penerima manfaat Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga yang difasilitasi oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera Offshore (NSO). Dalam program tersebut, kelompok yang dikenal dengan nama Inong Balee mendapatkan pelatihan teknik budidaya serta peremajaan tanaman kakao.
Ia mengungkapkan, sebelum adanya program tersebut, hasil panen terus menurun karena tanaman sudah tidak produktif.
“Dulu kami panen langsung jual, tanpa tahu soal kualitas,” katanya, Kamis, 23 April 2026.
Perjalanan hidup Nurhasanah tidak mudah. Ia harus kehilangan suami akibat konflik bersenjata saat anaknya masih kecil. Sejak itu, ia bekerja serabutan demi bertahan hidup.
“Saya dulu menjadi buruh tani agar anak tetap bisa makan. Hasil kebun peninggalan suami tidak cukup,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga pernah bekerja memanggul batu ke dalam truk di Sungai Krueng Kereuto untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, ia bersyukur atas adanya program pemberdayaan yang membantu meningkatkan keterampilan bertani.
“Saya sangat bersyukur. Kami diajarkan praktik pertanian kakao yang baik untuk meningkatkan hasil panen,” ujarnya.
Program Inong Balee kini telah menunjukkan hasil nyata. Sebanyak empat hektare lahan kritis berhasil direstorasi, dengan penanaman 600 bibit baru dan peremajaan lebih dari 1.700 pohon kakao. Produktivitas pun meningkat signifikan, dari sebelumnya satu kilogram per pohon menjadi tiga hingga lima kilogram dengan kualitas lebih baik.
Semangat serupa juga terlihat di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Sabariah bersama kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama berhasil mengembangkan inovasi produk olahan ikan baronang menjadi camilan bergizi.
Melalui dukungan PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field yang merupakan bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, para anggota kelompok mendapatkan pelatihan pengolahan produk dan pengembangan usaha.
“Program ini membantu kami sebagai ibu rumah tangga untuk memiliki penghasilan dan keterampilan baru,” ujar Sabariah.
Ia menambahkan, produk olahan ikan tersebut juga berkontribusi dalam menurunkan risiko stunting di masyarakat. Saat ini, usaha mereka mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp6 juta per bulan, dengan penjualan sekitar 400 produk setiap bulannya.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyatakan bahwa program pemberdayaan ini selaras dengan upaya pemerintah dalam pengentasan kemiskinan.
“Program ini dirancang berdasarkan pertimbangan sosial dan ekonomi, sehingga mampu meningkatkan kapasitas diri dan kemandirian masyarakat,” ujarnya di tengah penjelasan program.
Ia berharap peningkatan ekonomi yang terjadi dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan.[*]
