GIM Dorong Reformasi Tata Kelola dan Kepemimpinan di Bank Aceh Syariah

Banda Aceh – Generasi Intelektual Muda (GIM) mendorong PT Bank Aceh Syariah (BAS) melakukan transformasi kepemimpinan dengan menghadirkan figur profesional dari eksternal guna mempercepat pembenahan tata kelola dan meningkatkan daya saing di industri perbankan syariah nasional.

Dorongan tersebut disampaikan Founder Generasi Intelektual Muda (GIM), Muhammad Akhyar Bin Usman, menyikapi laporan kinerja Bank Aceh Syariah tahun buku 2025 yang menunjukkan penurunan laba bersih serta stagnasi pada sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan pembiayaan.

Menurut Akhyar, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Bank Aceh tengah menghadapi tantangan struktural yang membutuhkan langkah transformasi secara menyeluruh.

"Bank Aceh tidak sekadar membutuhkan pergantian figur, melainkan transformasi paradigma. Kita memerlukan nakhoda independen dari eksternal yang memiliki rekam jejak dalam memimpin transformasi perbankan, menerapkan good corporate governance (GCG), serta mampu mendorong akselerasi bisnis modern," ujar Akhyar.

Ia menilai tantangan yang dihadapi Bank Aceh bukan hanya dipengaruhi faktor ekonomi makro, tetapi juga berkaitan dengan budaya organisasi yang dinilai masih kurang adaptif terhadap perubahan.

Menurutnya, sebagian sumber daya manusia di lingkungan perbankan masih terjebak dalam pola kerja yang birokratis sehingga ruang untuk melahirkan inovasi layanan dan pengembangan produk baru menjadi terbatas.

Akhyar juga menyoroti adanya dinamika politik organisasi, faksionalisme, serta resistensi terhadap perubahan yang dinilai dapat mengurangi efektivitas kerja dan kolaborasi internal.

"Institusi keuangan modern tidak dapat berkembang dengan pola manajemen konvensional yang berorientasi pada kepentingan kelompok tertentu. Energi organisasi yang habis dalam politik internal akan menghambat kemampuan perusahaan menghadapi disrupsi digital dan persaingan pasar," tegasnya.

GIM berpandangan bahwa Bank Aceh perlu mengedepankan sistem meritokrasi dalam menentukan posisi strategis di perusahaan. Penempatan pejabat dan pengambil kebijakan harus didasarkan pada kapasitas, kompetensi teknis, integritas, serta rekam jejak profesional yang terukur.

Menurut Akhyar, kehadiran pemimpin independen dari luar perusahaan dapat menjadi solusi untuk meminimalkan konflik kepentingan sekaligus menghadirkan objektivitas dalam pengambilan keputusan strategis.

Ia menyebut pemimpin eksternal memiliki ruang yang lebih luas untuk fokus pada peningkatan kinerja perusahaan, penguatan ekosistem digital, dan ekspansi pasar tanpa terpengaruh dinamika politik internal.

Akhyar menambahkan bahwa langkah menghadirkan profesional eksternal bukan hal baru dalam industri perbankan nasional. Sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia dinilai berhasil meningkatkan kinerja dan keluar dari stagnasi bisnis setelah dipimpin oleh profesional perbankan berpengalaman di tingkat nasional.

"Potensi Bank Aceh Syariah sangat besar. Dukungan masyarakat Aceh yang kuat terhadap sistem keuangan syariah serta posisi strategis Bank Aceh sebagai motor penggerak ekonomi daerah merupakan modal yang sangat berharga," katanya.

Namun, menurutnya, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa didukung tata kelola perusahaan yang profesional, budaya kerja yang adaptif, dan kepemimpinan yang visioner.

Karena itu, GIM menilai transformasi kepemimpinan, pembenahan budaya kerja, serta penguatan tata kelola perusahaan menjadi langkah penting agar Bank Aceh Syariah mampu tumbuh sebagai bank syariah regional yang sehat, kompetitif, dan memiliki daya saing di tingkat nasional.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama