Syafyuzal Helmi Ajak Mahasiswa Aceh Kawal Kebijakan dan Jaga Kepentingan Rakyat

Banda Aceh - Tokoh mahasiswa Aceh, Syafyuzal Helmi, menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan pemerintah serta menjaga kedaulatan dan kepentingan rakyat.

Sebagai mantan Presiden Mahasiswa Universitas Teuku Umar periode 2020–2021, Syafyuzal menilai gerakan mahasiswa tidak boleh hanya sebatas retorika atau aksi simbolik. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menghadirkan gerakan nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat kecil.

Di tengah dinamika politik nasional pasca pelantikan Presiden Prabowo Subianto, ia mengajak seluruh elemen mahasiswa di Aceh untuk tetap bersikap konstruktif. Mahasiswa, kata dia, perlu mengawal kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, sekaligus menjaga stabilitas keamanan dari berbagai potensi gangguan sosial, termasuk paham separatisme dan provokasi kepentingan sempit.

Syafyuzal juga menyoroti polemik terkait Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang sempat memicu aksi demonstrasi mahasiswa. Namun, ia menilai penyampaian aspirasi harus dilakukan dengan cara yang solutif dan tidak anarkis.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, Syafyuzal menginisiasi pembentukan posko pengaduan bagi warga Aceh yang mengalami hambatan layanan kesehatan. Posko tersebut berfungsi sebagai wadah pengumpulan data dan aspirasi masyarakat terkait persoalan layanan kesehatan yang mereka alami.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam memperjuangkan hak-hak dasar warga.

Selain itu, Syafyuzal menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk separatisme. Ia menilai gerakan mahasiswa yang sehat harus berorientasi pada upaya memperbaiki keadaan dan memperkuat persatuan, bukan memecah belah bangsa.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengawasi pembangunan di Aceh secara partisipatif agar anggaran dan kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan hanya kepentingan elite tertentu.

Gerakan mahasiswa yang dibangun melalui pendekatan edukatif, pengumpulan data, serta penyampaian solusi dinilai menjadi contoh aktivisme yang lebih bertanggung jawab dan berpihak kepada rakyat kecil. Syafyuzal berharap pendekatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pemimpin mahasiswa lainnya di Aceh.[rzl]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama