Budaya Literasi Malaysia Tetap Kuat, Ini Kata CEO Galeri Ilmu

Kuala Lumpur – Kemajuan teknologi digital ternyata tidak menggeser kecintaan generasi muda Malaysia terhadap buku. Hal itu diungkapkan CEO Galeri Ilmu Media Group, Tuan Haji Yusri bin Mohd Yusof, yang menilai budaya membaca di Negeri Jiran masih tumbuh dengan baik.

Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya berbincang dengan Sekretaris Jenderal Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (CISAH), Mawardi Ismail al-Asyi, pada penutupan Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) 2026.

Menurut Tuan Haji Yusri, tingginya antusiasme pengunjung muda selama PBAKL 2026 menjadi bukti bahwa buku tetap diminati di tengah maraknya penggunaan media sosial dan berbagai platform digital.

"Anak-anak muda di Malaysia masih sangat antusias menghadiri pesta buku. Ada yang rela menghabiskan lebih dari RM700 hanya untuk membeli buku dalam satu kunjungan," katanya.

PBAKL 2026 yang berlangsung pada 29 Mei hingga 7 Juni menjadi salah satu festival buku terbesar di Asia Tenggara. Ribuan pengunjung dari berbagai kalangan memadati lokasi pameran untuk berburu buku, mengikuti diskusi, hingga bertemu langsung dengan para penulis.

Dalam kesempatan itu, Tuan Haji Yusri juga menyampaikan penghargaan kepada CISAH atas kolaborasinya bersama Relawan Rangers dalam mempromosikan budaya ilmu dan literasi.

Relawan Rangers merupakan tim penulis buku ACEH: Bangkit daripada Luka yang diterbitkan Galeri Ilmu Media Group. Tim tersebut terdiri dari empat penulis asal CISAH Aceh Utara dan enam penulis dari Halaqah Mukhlisin Malaysia.

Di tengah padatnya agenda selama PBAKL 2026, Tuan Haji Yusri tetap memberikan dukungan kepada tim tersebut. Bahkan melalui unggahan di media sosial pribadinya, ia menyebut sinergi antara Malaysia dan Aceh dalam dunia literasi sebagai sebuah "kerja sama yang luar biasa".

Ia berharap kolaborasi lintas negara itu dapat terus diperkuat untuk meningkatkan minat baca masyarakat, mengembangkan budaya ilmu, serta melahirkan lebih banyak karya yang bermanfaat bagi umat.

Dalam perbincangan itu, Tuan Haji Yusri juga mengenang kunjungannya ke Krueng Geukueh, Aceh Utara. Kenangan tersebut menjadi salah satu ikatan yang mempererat hubungan Galeri Ilmu dengan komunitas literasi di Aceh.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa konsep Ihya Turats yang diusung Galeri Ilmu bertujuan menghidupkan kembali khazanah keilmuan para ulama terdahulu agar tetap relevan dan mudah diakses oleh generasi masa kini.

Sementara itu, kehadiran Mawardi Ismail al-Asyi di Kuala Lumpur bertujuan mempromosikan buku ACEH: Bangkit daripada Luka sekaligus mengikuti sesi podcast peluncuran buku tersebut.

Stan 623 yang menampilkan buku tersebut juga mendapat perhatian sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua Majlis Amanah Rakyat (MARA), Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki.

Kolaborasi antara Malaysia dan Aceh melalui dunia literasi diharapkan terus berkembang, sehingga budaya membaca tidak hanya bertahan di era digital, tetapi juga semakin mengakar di tengah masyarakat. [*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama