Kader HMI Lhokseumawe Perkenalkan Budaya Aceh di Forum Nasional

Medan — Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara, M. Ardiansyah P Sinaga, memperkenalkan kekayaan budaya Aceh dalam Forum Nasional Latihan Kepemimpinan (LK) III Badan Koordinasi (Badko) HMI Sumatera Utara.

Kegiatan yang diikuti kader HMI dari berbagai daerah di Indonesia itu menjadi momentum strategis dalam memperkuat identitas kultural di tengah dinamika kepemimpinan nasional.

Dalam forum tersebut, Ardiansyah menampilkan simbol budaya khas Aceh berupa Sarung Pinto Aceh dan Kopiah Meukutop. Kedua atribut ini tidak sekadar busana adat, melainkan sarat nilai filosofis yang mencerminkan karakter masyarakat Aceh.

Sarung Pinto Aceh dikenal dengan motif khas dan warna tegas yang melambangkan kehormatan, kesederhanaan, serta keterikatan masyarakat terhadap nilai religius dan adat istiadat. Selain itu, sarung ini juga merepresentasikan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual.

Sementara itu, Kopiah Meukutop merupakan penutup kepala tradisional yang memiliki makna kewibawaan, kesabaran, dan kerendahan hati. Dalam tradisi Aceh, kopiah ini kerap dikenakan tokoh adat maupun pemimpin sebagai simbol tanggung jawab moral dan integritas.

“Melalui simbol budaya ini, saya ingin menyampaikan bahwa Aceh tidak hanya dikenal dari sejarahnya, tetapi juga dari nilai-nilai luhur seperti kesabaran, keteguhan, dan penghormatan terhadap adat,” ujar Ardiansyah.

Sebagai bentuk penghormatan, Ardiansyah turut menyerahkan Sarung Pinto Aceh dan Kopiah Meukutop kepada Ahmad Doli Kurnia Tandjung, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI. Penyerahan ini menjadi simbol pengenalan budaya Aceh kepada tokoh nasional.

Selain itu, atribut budaya tersebut juga diberikan kepada Anas Urbaningrum, sebagai bagian dari penghormatan terhadap kontribusinya dalam sejarah kaderisasi HMI di tingkat nasional.

Forum LK III Badko HMI Sumatera Utara merupakan wadah strategis dalam mencetak kader pemimpin bangsa yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga berakar kuat pada nilai budaya dan kearifan lokal.

Kehadiran Ardiansyah dengan pendekatan kulturalnya menjadi bukti bahwa identitas lokal dapat menjadi kekuatan dalam membangun narasi kebangsaan yang inklusif. Melalui langkah ini, budaya Aceh diharapkan semakin dikenal luas serta menjadi inspirasi dalam membentuk kepemimpinan berkarakter di Indonesia.[*]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama