Banda Aceh — UIN Ar-Raniry Banda Aceh mencatat capaian prestisius dengan menempati peringkat pertama nasional dalam bidang riset versi Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026. Di tingkat global, kampus ini berada di posisi ke-818 dunia—sebuah lompatan yang menempatkan UIN Ar-Raniry dalam peta riset internasional.
Dalam daftar tersebut, UIN Ar-Raniry melampaui Universitas Indonesia yang berada di posisi kedua nasional (peringkat 956 dunia) serta Universitas Gadjah Mada di posisi ketiga nasional (peringkat 1.372 dunia).
ejumlah perguruan tinggi lain yang masuk 10 besar nasional antara lain Institut Pertanian Bogor (peringkat global 1.514), Universitas Negeri Padang (1.870), Universitas Airlangga (2.019), serta Universitas Syiah Kuala (2.096).
Pemeringkatan SIR sendiri didasarkan pada tiga indikator utama, yakni kinerja riset, inovasi, serta dampak sosial yang diukur melalui visibilitas web. UIN Ar-Raniry juga tercatat masuk dalam kuartil pertama (Q1), kategori tertinggi dalam sistem penilaian tersebut.
Capaian ini disambut dengan rasa syukur oleh Mahasiswa Aceh Besar di lingkungan kampus. Ketua Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Mahasiswa Aceh Besar UIN Ar-Raniry menilai keberhasilan ini sebagai hasil dari kerja kolektif yang panjang.
“Ini tentu menjadi kebanggaan bersama. UIN Ar-Raniry telah menunjukkan bahwa kampus di daerah juga mampu bersaing dan bahkan unggul di tingkat nasional,” ujarnya, Minggu, 19 April 2026.
Namun, ia mengingatkan agar capaian ini tidak hanya berhenti sebagai angka dalam pemeringkatan. Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana riset yang dihasilkan dapat terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Peringkat ini adalah awal yang baik. Yang perlu kita jaga adalah semangatnya—agar ilmu yang lahir dari kampus benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan prestasi tersebut. Mahasiswa, menurutnya, perlu didorong untuk aktif dalam kegiatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga perlu mencoba, meneliti, dan berkontribusi. Dari situlah budaya akademik yang kuat akan tumbuh,” tambahnya.
Bagi Mahasiswa Aceh Besar, capaian UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini adalah harapan sekaligus pengingat. Bahwa prestasi bisa diraih dengan kesungguhan, dan akan tetap bertahan jika dijaga dengan kerendahan hati serta kerja yang terus berlanjut.
Di tengah kabar baik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar perayaan, tetapi langkah yang lebih tenang dan pasti untuk merawat ilmu, menjaga semangat belajar, dan memastikan bahwa setiap capaian membawa kebaikan yang lebih luas.[Syahrul]
